Monday, February 18, 2013

India Trip (Part 4: Khajuraho)

(20 Jan 2013)
Kereta yang membawa kami dari Stasiun Agra tiba di Khajuraho jam 06.30 pagi yang masih gelap dan berkabut karena matahari belum bersinar. Seperti di stasiun sebelumnya, kami menitip backpack di cloack room yang sudah ramai dikerumuni turis. Sayangnya cloack room baru buka jam 07.30, jadi kami harus menunggu di stasiun yang sepi ini sambil minum chai untuk menghangatkan badan. Setelah penitipan barang di cloack room beres, kami segera keluar stasiun mencari angkutan untuk menuju hostel. Ternyata keadaan di luar dan di dalam stasiun nggak jauh beda: sepi. Hanya kelihatan beberapa auto dan taksi berwarna putih. Akhirnya setelah tawar-menawar dengan auto wala, kami naik auto menuju hostel yang jaraknya lumayan jauh melewati jalanan besar yang sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas dan segelintir orang yang tampak di pinggiran jalan. Sampai di hostel, kami bersih-bersih dan istirahat sebentar lalu sarapan roti dan chai di balkon hotel sambil mandi matahari yang aduhai rasanya nikmaaat sekali (efek kelaparan di musim dingin). Baru kali ini aku merasakan nikmatnya mandi matahari setelah terpapar udara yang dinginnya serasa menusuk tulang dan mencengkram batang otak. Aku jadi semakin bersyukur tinggal di garis khatulistiwa sehingga bisa menikmati hangatnya sinar matahari sepanjang tahun.

Sehabis sarapan kami langsung mengunjungi Khajuraho Temple, atau dikenal juga dengan Candi Kamasutra. Kenapa Kamasutra? Karena bangunan candi ini memiliki relief yang tidak biasa, yaitu aneka pose hubungan intim yang menjadi asal muasal Kamasutra, seni bercinta tingkat tinggi yang berasal dari India. Konon katanya, relief yang terdapat pada dinding candi ini tidak dipahat oleh tangan manusia, melainkan keluar dari batu dengan sendirinya. Sebagian orang juga memercayai bahwa kita dapat menemukan kedamaian, ketenangan, dan kebahagiaan dengan bercinta seperti yang ditunjukkan oleh Kamasutra. Kompleks ini terdiri dari beberapa candi yang bentuk dan ukurannya hampir serupa, tapi belum tentu dengan reliefnya. Beberapa Candi tampak sedang dalam tahap pemugaran, dan karena merupakan candi Hindu, di dalam Candi juga terdapat patung dewa yang disucikan oleh pemeluk Hindu.

Khajuraho Temple sebagai salah satu situs budaya yang diakui UNESCO

Salah satu Candi Khajuraho a.k.a Candi Kamasutra

Zoom in relief dinding Candi

Tampak Candi dari sudut lain

Say cheers!!! Indian boys playing cricket outside Khajuraho Temple

Setelah puas mengelilingi Candi Kamasutra, kami mengunjung Jain Temple, candi pemeluk agama Jain yang jaraknya sekitar 15 menit jalan kaki dari Candi Kamasutra. FYI, di kota Khajuraho terdapat banyak sekali candi-candi Hindu, jadi kita bisa memilih mau mengunjungi yang mana saja. Yang ramai dikunjungi itu biasanya yang berstatus "UNESCO World Heritage" seperti Candi Kamasutra, atau yang di-maintain oleh "Archaeological Survey of India".

Jain Temple

Inside Jain Temple
Candi terakhir yang kami kunjungi..... aku lupa apa namanya (maap yahh, lupa selupa-lupanya, karena nggak ada tulisan dan fotonya juga sedikit). Di sini aku mulai error karena ternyata jalannya jauuh sekali dan hanya kami yang tampak walking like an asshole saking tidak adanya (turis) pejalan kaki selain kami. Usut punya usut, ternyata di pasar dekat Candi Khajuraho tadi ada penyewaan sepeda, jadi para turis yang ingin mengunjungi candi yang agak jauh bisa menggunaakan sepeda. Pantas saja dari tadi aku perhatikan banyak sekali pasukan turis bule dan (lagi-lagi) turis Asia lalu lalang menggenjot sepeda dengan santainya, huuuh... *kesal sama diri sendiri*

Taman di Candi terakhir yang kami kunjungi

Walaupun matahari bersinar terang seperti ini, suhu dinginnya tetap bikin menggigil lho

Taking pix while walking like an asshole

Indian fabric shop in India
Kembali ke hotel, kami mengistirahatkan kaki yang sudah pegal nggak karuan. Sambil tiduran kami putar-putar channel TV, dan fakta yang kami temukan adalah: ada lebih dari 100 channel TV India (lokal dan nasional) yang tayang hanya dengan antena manual. Acaranya pun beragam, mulai dari berita berbahasa Hindi dan Inggris, MTV India, siaran video klip lagu (India) terbaru, discovery channel, rerun film Hollywood (waktu itu sedang tayang film Karate Kid yang di-dubbing bahasa Hindi *silahkan dibayangkan Jackie Chan ngomong dengan bahasa Hindi*), dan tentu saja drama Bollywood. Waktu itu kami nonton drama komedi Bollywood yang ceritanya kira-kira begini:
Adalah seorang pria berwajah sendu penggemar Shah Rukh Khan (SRK) yang sangat terobsesi menjadi artis. Pekerjaannya sehari-hari adalah talent figuran nggak penting, tapi dia bangga sekali dengan pekerjaannya itu hingga membual kepada orang sekampung kalau dia akan main bareng SRK di film terbarunya. Anehnya orang-orang sekampungnya percaya dan mulai berbaik hati (nyogok) si pria berwajah sendu ini supaya bisa bertemu dan foto bareng SRK dengan memberi uang, makanan, pakaian, sepatu, potong rambut gratis, hingga scooter, yang penting bisa ketemu SRK di tempat syuting. Singkat cerita, datanglah pasukan satu kampung ini ke lokasi syuting film terbaru SRK yang berlokasi di sebuah taman luas yang ada komedi putarnya. Tak disangka lokasi syuting ini sudah penuh dengan lautan manusia yang datang entah dari mana dengan tujuan yang sama: melihat idola mereka SRK dari dekat. SRK sendiri memang jadi cameo di film ini bersama dengan Kareena Kapoor dan aktris-aktris India lainnya yang sibuk menari-nari dan menyanyi dibawah arahan sutradara. Nah, kemana si pria berwajah sendu tadi? Ternyata dia hanya jadi figuran yang tugasnya duduk manis di dalam komedi putar yang teruuuus saja berputar tanpa henti karena adegan SRK dan polisi gendut yang diulang-ulang. Saking ramaaainya "orang nonton syuting", pohon-pohon berdaun rimbun di pinggiran taman berubah jadi pohon berdaun manusia yang berakhir dengan.... KRAAAKK....!!! Tumbangnya pohon-pohon malang itu karena tidak kuat menahan guncangan sorak-sorai manusia diatasnya saat melihat SRK beraksi. Sutradara film pun marah besar dan aku tidak kuat menahan sakit perut karena tertawa. India... oh India...
Sore hari kami check out hotel dan berjalan menuju pasar untuk mengisi perut bekal perjalanan di kereta malam nanti. Di sini kami makan di restoran sederhana yang dimiliki sebuah keluarga yang menyajikan roti terbaik yang aku makan selama perjalananku di India. Rotinya lembut, karinya kental, dan acarnya segar. Dan dari penyajiannya (yang dihidangkan oleh anak laki-laki kecil lucu pemilik restoran), kelihatan sekali ini adalah truly Indian home food, bukan tipe makanan yang dimasak untuk dijual seperti di restoran kebanyakan.

Kami naik auto menuju stasiun melewati jalan sepi seperti yang kami lalui tadi pagi. Bedanya, kali ini sudah mulai gelap dan dinginnya angin sampai bikin aku menguap-nguap nggak karuan *aneh juga yah*. Sampai di stasiun kami mengambil backpack di cloack room lalu seperti biasa, menuju ruang tunggu stasiun. Ternyata eh ternyata.... Di ruang tunggu sudah menghampar turis-turis yang tadi pagi naik kereta yang sama dari Agra (dan juga kami temui juga di Candi Kamasutra) dan hampir semua wajahnya kami kenali, terutama turis-turis pria asal Korea Selatan lengkap dengan topi, kacamata besar, aneka gadget, chargerheadset, dan penampilan nyentriknya (nanti akan aku bahas tersendiri tentang turis-turis yang kutemui selama di India). Jadilah selama 4 jam menunggu di ruang tunggu ini, aku serasa berada di Korea. 20 menit sebelum keberangkatan kereta tujuan Varanasi, satu per satu mereka mulai meninggalkan ruang tunggu. Aku mulai curiga, jangan-jangan semua turis di sini tujuannya juga ke Varanasi. Saat kami melangkah keluar dan menemukan coach kami... voila... this is it!!!(*Farah Quinn mode on): semua orang di ruang tunggu tadi kini berkumpul kembali di gerbong yang sama.

Korean tourists in India

Korean tourists in India (again)

Sunday, February 17, 2013

India Trip (Part 3: New Delhi - Agra)

(18 Jan 2013)
Setelah hari kemarin berkeliling Lotus Temple, Qutab Minar, naik metro, dan pasar Chandni Chowk hari ini rencananya kami mau mengeksplor tempat-tempat wisata bersejarah Jama Masjid, India Gate, dan Old Delhi. Tapi rencana tinggallah rencana, di pagi buta hujan turun mengguyur Delhi di musim dingin. Udara yang sudah dingin menjadi semakin menusuk. Bangun tidur aku membuka balkon kamar hostel dan melihat suasana yang gloomy, yang bikin nggak selera buat main ke luar. Pedagang buah dan sayur mulai berdatangan dengan gerobak-gerobak yang ditutupi plastik kemudian teriakan mereka memecah pagi yang sendu itu.

Toko sayuran yang terdapat di depan hostel

Pedagang buah dengan gerobak yang banyak terdapat di sekitar hostel

Kami tidak menyangka hujan turun semakin deras. Saat berbincang dengan staff hostel ia bilang kalau musim dingin seperti ini nggak biasanya turun hujan. Wah, alamat mati gaya seharian nih, ckckck.

Sekitar siang jam 2-an hujan baru mulai reda, tapi hawa dingin masih tetap menusuk. Disinilah pertama kali bagiku mengeluarkan asap waktu berbicara, bahkan saking dinginnya waktu pipis-pun keluar asap. Setelah sinar matahari mulai kelihatan sekitar jam 3-an  kami memutuskan jalan ke pasar. Aku lupa nama pasarnya, tapi di sini kami puas berkeliling dan belanja kurti (dress panjang a la wanita India), scarf obral, gelang krincing-krincing, dan sepatu (ini diluar perkiraan karena dengan bodohnya aku traveling hanya membawa sandal). Kami juga mencicipi makan di restoran yang rada bagus sedikit, dan memesan veg biryani (nasi biryani sayur) serta dosa masala, sejenis crepes besar gurih yang didalamnya terdapat kentang tumbuk dan dimakan dengan kuah kari dan curd (yoghurt).

Veg Biryani dan Dosa Masala yang gurih

Aku baru sadar kalau rumah makan di India banyak yang bergaya standing party, tidak ada kursi melainkan hanya terdapat meja setinggi dada, dan pengunjung makan sambil berdiri. Setelah kenyang makan dengan porsi kuli (setiap menu makanan India di India porsinya selalu buanyakkk), kami melihat stand jajanan. Ada satu yang menarik perhatian kami, yaitu menu bernama momo. Aku pernah baca kalau momo itu adalah dim sum a la India, yang isinya sayur dan kacang-kacangan. Karena penasaran, jadilah kami mencicipinya dan ternyata rasanya enak, ditambah lagi dengan saos cabe yang asem-asem pedas.

Sebelum hari beranjak gelap, kami segera balik ke hostel untuk mempersiapkan perjalanan esok hari, yaitu kota bersejarah Agra.


(19 Jan 2013)
Kami memulai hari ini lebih pagi dengan penuh semangat, karena hari ini kami akan mengunjungi Agra, kota-nya Taj Mahal, menggunakan kereta dari Nizamuddin Train Station. Kereta berangkat jam 07.00 pagi dengan jarak tempuh sekitar 3 jam dari New Delhi. Di kereta kursi duduk 90 derajat ini kami berbaur dengan masyarakat India dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, bapak-bapak, suami-istri-anak, kakek-nenek, penjaja makanan, pengemis tua, pengemis anak, hingga (maaf) banci yang bikin aku takut...

Jam 10.20 kereta sampai di stasiun Agra Cantt. Hal pertama yang kami lakukan adalah menemukan cloacker room atau ruang penitipan barang, karena kami membawa backpack besar untuk perjalanan hingga 3 hari ke depan. Sampai di cloack room, ternyata sudah banyak turis yang antri dan kebanyakan adalah turis Asia, yang kemudian aku tahu sebagian besar adalah asal Korea Selatan.

Keluar dari stasiun kami naik autorickshaw (bajai) ke Taj Mahal, jaraknya sekitar 20 menit dan diteruskan jalan sedikit hingga ke pintu gerbang pembelian karcis. Tiket masuk untuk warga asing adalah Rs 750 (Rp 150.000) sedangkan untuk warga India hanya Rs 20 (Rp 4.000) saja! Tapi turis asing mendapat pelayanan yang lebih baik, seperti diberi penutup kaki pengganti alas kaki yang harus dilepas dan air mineral botol. Sebenarnya disediakan jasa tourist guide hingga ke dalam, tapi karena musti membayar lagi kami memutuskan tidak mengambilnya. Sebelum masuk ke pintu gerbang, semua pengunjung melewati pintu penjagaan yang ketat dan scanner seperti di bandara. Kemudian barisan perempuan dan laki-laki dipisah untuk diperiksa seluruh anggota badan dan isi barang bawaannya.

Setelah melewati pos penjagaan dengan antrian yang superrr panjang, kami disambut sebuah bangunan besar  berwarna merah yang merupakan gerbang masuk Taj Mahal. Aku memasuki gerbang ini dengan dag-dig-dug karena tepat di depanku istana Taj Mahal berdiri dengan anggunnya walau diliputi kabut tipis tetap memantulkan sinar keemasan matahari pagi. Nggak tau kenapa aku merinding, dan rasanya ingin nangis *drama queen*

Gerbang masuk Taj Mahal yang tinggi dan besar

Kami terus berjalan dan berjalan mendekati Taj Mahal yang megah ini. Karena pengunjung hari itu yang menurutku ruameeeee sekali, jadi sulit untuk menemukan spot buat foto-foto. Semua sudut dipenuhi oleh orang dengan pose aneka gaya, apalagi banyak turis lokal yang pose-nya bikin aku tertawa. Saat memasuki pintu Taj Mahal terdapat petugas pengamanan yang melarang segala bentuk dokumentasi. Kami masuk ke dalam, dan ternyata di dalamnya terdapat 2 makam yang terletak berdampingan. Konon katanya itulah makam Shah Jahan, raja yang membangun Taj Mahal sebagai lambang cintanya pada sang istri Mumtaz Mahal, yang meninggal saat melahirkan anak ke-14 mereka. Hingga kini lambang cinta sejati itu masih gagah berdiri dan akan tetap abadi sepanjang masa (Ameen).

Taj Mahal (1)

Taj Mahal (2)

Ukiran pada marmer dinding Taj Mahal

Taj Mahal dari halaman belakang yang sepi dari pengunjung

Puas menjelajahi Taj Mahal dari depan hingga ke belakang, kami perlahan berjalan keluar. Kami berpapasan dengan antrian pengunjung yang seakan tidak ada habisnya memasuki gerbang Taj Mahal. Di perjalanan menuju pintu keluar ini kami sempat bertemu dengan om Tantowi Yahya lhoo, hehehe... Tujuan selanjutnya adalah Agra Fort, atau benteng merah. Jaraknya 2 kilometer dari Taj Mahal dan walaupun banyak auto wala (supir bajai) yang menawarkan jasanya, kami putuskan untuk menempuhnya dengan berjalan kaki saja.

Agra Fort adalah benteng yang dibangun pada masa pemerintahan Shah Jahan dahulu. Dan dari salah satu sudtut benteng ini kita dapat melihat Taj Mahal berdiri dengan megahnya. Konon katanya Shah Jahan memandangi Taj Mahal dari benteng ini untuk mengenang istrinya Mumtaz Mahal. Di sini juga banyak guide lokal yang menjelaskan tentang sejarah Agra Fort dengan berbagai bahasa, dan yang paling aneh buatku adalah saat melihat bapak-bapak India dengan cas-cis-cus meng-guide sekelompok turis Jepang menggunakan Bahasa Jepang!

Gerbang Agra Fort

Salah satu sudut taman Agra Fort

Taj Mahal dilihat dari Agra Fort

Waktu menunjukkan pukul 1 siang saat kami selesai menjelajahi Agra Fort, sedangkan waktu keberangkatan kereta ke Khajuraho masih jam 23.20 malam. Kami kemudian memutuskan untuk pergi ke Fatehpur Shikri, sebuah bangunan bersejarah peninggalan dinasti Mughal pada masa lalu. Fisik bangunannya masih senada dengan bangunan yang terdapat di seputaran Taj Mahal dan Agra Fort, tapi di Fatehpur Shikri terdapat sebuah makam yang menjadi tempat ziarah banyak kaum muslim. Dengan jarak 30 km dari pusat kota Agra, kami berangkat menuju Fatehpur Shikri dengan menggunakan bus.

Sampai di terminal Fatehpur Shikri ternyata harus berjalan lagi melewati pasar tradisional hingga sampai di bangunan utama. Melewati pasar yang riweh dan cukup berantakan ini membuatku jadi kehilangan semangat, tapi sudah sampai terminal masa' mau balik kanan? Akhirnya kami berjalan dan terus berjalan hingga menaiki tangga menuju gerbang Fatehpur Shikri. Oiya disepanjang perjalanan kami juga terus diikuti anak yang mengaku sebagai guide dan meminta (tepatnya maksa) kami agar menggunakan jasa guide-nya. Walau sudah kami tolak baik-baik, dia terus meyakinkan dengan Bahasa Inggris aksen India lengkap dengan goyangan kepala ke kiri dan ke kanan. Kemudian kami memasang muka "keras" dan nggak menggubris sama sekali, tapi tetap saja diiikutin sampai akhirnya.... Dia capek sendiri dan balik kanan.

Begitu melewati gerbang masuk Fatehpur Shikri, barulah capek dan cenat cenut di badan sedikit menguap. Kami disambut dengan alunan musik dari sekelompok pemain musik (seperti orkestra gambus) di dekat bangunan tempat ziarah Fatehpur Shikri. Kompleks bangunan ini sangat luas, meskipun tidak banyak turis asingnya. Hembusan angin sore ditambah dengan siluet jingga sinar matahari yang mulai condong ke barat membuat tempat ini terasa romantis-romantis gimana... gitu..., hehehe....

Gerbang Fatehpur Shikri

Kambing yang menyambut di gerbang Fatehpur Shikri

Pemain musik di dalam Fatehpur Shikri

Inside Fatehpur Shikri

Sunset in Fatehpur Shikri

Sebelum hari beranjak gelap kami kembali ke terminal pasar untuk menaiki bus kembali ke kota Agra. Sama seperti di Jakarta, bus baru akan berangkat setelah bangku penumpang terisi semua. Bus akhirnya berangkat setelah hampir 30 menit kami menunggu di dalam bus bersama dengan warga lokal dan 2 bapak-bapak turis asal Jepang. Setibanya di Stasiun Agra, hari sudah gelap. Kami menuju cloack room untuk mengambil backpack, kemudian menunggu jadwal keberangkatan kereta menuju Khajuraho pukul 23.20 di ruang tunggu stasiun yang sudah dipenuhi oleh turis bule dan Asia.

Monday, February 11, 2013

India Trip (Part 2: New Delhi)

(16 Jan 2013)
Aku terbangun pukul 05.00 dengan mendengar derik kereta melaju kencang dan merasakan sedikit gucangan pada tempat tidurku, kubuka tirai tempat tidur dan ternyata belum ada penumpang yang bangun. Aku segera turun dan menuju wastafel dan kamar mandi, lalu solat subuh di atas kasur dan melanjutkan tidur. Jam 07.30 aku terbangun lagi dan baru merasakan tanda-tanda kehidupan di kereta. Karena kereta kali ini kelas AC, jadi privacy setiap penumpang di kompartemen lebih terjaga. Penjual makanan juga tidak semuanya bisa masuk, hanya yang resmi berseragam kereta api aja. Pagi itu kami memesan chai dan bread omelet untuk sarapan. Nggak banyak interaksi yang kami lakukan dengan penumpang lain secara kebanyakan sudah berusia paruh baya. Kami hanya ngobrol sedikit dengan ibu-ibu yang tempat tidurnya berada di bawahku.

Bosan berada di kereta, kami jalan ke ujung-ujung gerbong kereta dan sesekali turun di beberapa stasiun saat kereta berhenti cukup lama. Nggak terasa hari sudah siang, dan petugas katering kereta menanyakan menu makan siang. Kami memesan satu paket roti lengkap dengan veg curry dan satu nasi briyani. Oh iya, mencari makanan halal di India nggak sulit lho. Hal ini dikarenakan sebagian besar penduduk India adalah vegetarian yang nggak makan hewan. Trus makan apa dong? Makanan pokoknya adalah roti (untuk India bagian utara) dan nasi (untuk India bagian selatan). Sedangkan sumber proteinnya adalah curry (kari) yang terdiri dari dhaal (sejenis kacang-kacangan), cauliflower (kembang kol), buncis, dan kentang. Selain itu roti juga sering dilengkapi dengan acar mangga, curd (sejenis yoghurt), dan irisan bawang merah. Beberapa orang India juga nggak makan telur, tapi menu dengan telur cukup mudah ditemui. Sedangkan ayam, ikan, dan sumber protein hewani lainnya biasa ditemui di restoran Islam dan restoran khusus non-veg yang biasanya terpampang dengan jelas "Non-Veg Menu Available". Secara aku juga bukan penggemar daging-dagingan, makanan vegetarian nggak jadi masalah buat perutku. Hanya saja makanan full carbo yang kurang sayuran berdaun bikin aku jadi sembelit.

Perjalanan ke New Delhi berjalan sangat lamaaa sekali, sehingga waktu yang sangat berharga ini kami manfaatkan dengan istirahat dan tidur-tiduran. Hari sudah kembali beranjak malam namun kami masih saja berada di kereta.

Poster Incredible India di kereta

Pemandangan dari dalam kereta


(17 Jan 2013)
Sudah lebih dari 24 jam perjalanan kami tempuh dari Kalkuta ke New Delhi. Rupanya kereta ini memang terlambat karena melaju pelan diakibatkan cuaca kabut. Pukul 06.00 pagi akhirnya kereta sampai di Stasiun Old Delhi. Matahari di New Delhi muncul sangat lama, terlebih saat musim dingin seperti ini, Jam 6.30 kami memutuskan untuk meninggalkan stasiun kereta dengan udara dinginn yang menusuk menuju hostel yang sudah dibooking di hostelbookers.com yang terletak di kawasan Bharatnagar. Kami naik bajai-nya India yang nggak dipanggil bajai, melainkan Auto. Setelah heck in di hostel, kami bersih-bersih dan istirahat sebentar.

Tidak berapa lama kami terbangun karena perut yang lapar dan semangat yang sudah menggebu-gebu untuk mengeksplore New Delhi. Kami bertanya ke resepsionis hostel tentang transportasi menuju objek wisata yang sudah kami buat list-nya, yang ternyata sebagian besar ditempuh menggunakan Auto. Namun ia memberikan saran untuk beberapa tempat yang dekat bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Akhirnya kami naik Auto ke Lotus Temple, lalu jalan kaki ke Qutab Minar, kemudian naik Metro menuju Chandni Chowk Bazaar.

Bahai House of Worship dikenal juga dengan Lotus Temple
Lotus Temple kebanggaan masyarakat New Delhi, yang suka dipelesetkan sebagai Opera House-nya India 

Indian Face

Indian Students
Pasangan pengantin baru mengunjungi Lotus Temple

Qutab Minar

Menara Qutab Minar, saksi kejayaan penguasa Muslim di India pada masa lalu

Stasiun Metro, transportasi publik kebanggaan masyarakat New Delhi

Delhi Metro pada gerbong khusus wanita

Pasang Mahendi di Chadni Chowk


Sunday, February 10, 2013

India Trip (Part 1: Jakarta - KL - Kolkata)

(14 Jan 2013)
Perjalananku ke India dimulai dengaan rute Jakarta-Kuala Lumpur, mengingat belum ada penerbangan low cost carrier langsung dari Jakarta ke India. Dari Jakarta ke KL aku terbang dengan Air Asia penerbangan paling akhir di malam hari, sehingga aku harus menginap semalam di LCCT Kuala Lumpur International Airport untuk penerbangan ke Kalkuta keesokan harinya. Terminal LCCT ternyata sangat besar dan penuh sekali. 24 jam dalam sehari nggak pernah sepi, aktivitas kedatangan dan keberangkatan penumpang terus berjalan. Aku menginap di kursi ruang tunggu kedatangan, dan bertemu seorang cewek dari Filipina yang akhirnya menjadi teman ngobrolku mengarungi malam yang melelahkan di LCCT.

Terminal Kedatangan Domestik LCCT tempat aku menginap

(15 Jan 2013)
Keesokan paginya setelah sarapan bersama kami berpisah karena ia akan melanjutkan perjalanan ke Penang pukul 9 pagi. Tapi aku masih nggak sendiri, karena setelah itu aku ketemu seorang cewek Malaysia yang mau terbang ke Sabah pukul 11 pagi. Jadilah aku dapat teman ngobrol untuk mengusir kejenuhan walaupun nggak lama. Kami ngobrol-ngobrol tentang musik, film, dan ngalor ngidul kemana-mana. Dari percakapan dengannya aku jadi tau ternyata orang Malaysia penggemar musik dan film Indonesia. Dia sampai bilang, "Aku ingin sekali ke Indonesia". Trus dia nanya kalau ke Indonesia tempat yang bagus itu dimana. Aku jawab aja, "Kalo mau jalan-jalan ke Indonesia mending ke Bandung aja, atau Yogya dan Bali. Jangan ke Jakarta deh, soalnya muacet dan crowded". Trus dia manggut-manggut sambil bilang, "Oh.. Bandung... Bandung..."

Jam 12 siang akhirnya aku bertemu Nurul, travel mate ku ke India. Dia terbang dari Surabaya dengan pesawat pagi dan kami janji ketemuan di LCCT. Setelah kedatangan Nurul yang enejik dan penuh semangat, makin tidak sabar rasanya untuk menjejakkan kaki di India. Jadwal penerbangan ke KL-Kolkata adalah pukul 15.05 waktu KL (waktu KL 1 jam lebih cepat dibanding WIB) dan pukul 13.20 kami sudah siap-siap buat check in. Namun bencana dimulai saat kami melihat papan informasi yang menyatakan pesawat ke Kalkuta delay 50 menit! Badanku langsung lemas dan lunglai mengingat kami sudah memesan tiket kereta dari Kolkata menuju New Delhi yang dengan perhitungan pesawat nggak delay aja sudah bikin jantung mau copot. Apalagi ini delay-nya sampai 50 menit! What an asshole Air Asia!!! Aku dan Nurul hanya bisa pasrah dan berdoa, dan menyiapkan rencana cadangan kalau harus menginap di Kalkuta atau mengejar kereta berikutnya (yang pastinya tidak mudah dengan harga tiket yang lebih mahal).

Akhirnya delay 50 menit itu menjadi 1 jam 40 menit. F*ck!!! Penerbangan yang seharusnya jadi menyenangkan berubah menjadi sangat menyebalkan. Ditambah lagi saat menaruh tas di kabin pesawat seorang ibu-ibu India seenaknya melarang aku meletakkan tas di atas kabinnya, "No no no, that is ours, that is ours". Untunglah seorang pramugara yang ganteng dengan sigap membelaku, "That's ok maam, she can put her luggage anywhere in this cabin as her cabin is already full", dan kemudian menolong menaroh tasku. Pesawat lepas landas pukul 14.40 dan waktu 3 jam 50 menit terasa lama sekali. Biarpun kesal karena penerbangan yang delay nggak tanggung-tanggung, ada satu hal yang membuat aku sedikit bahagia saat mendarat di Netaji Subhas Chandra Bose Int'l Airport di Kalkuta. Sesaat setelah landing kru pesawat memutar lagu Separuh Aku-nya Noah Band. Aku jadi terharu sekaligus bangga. Bukannya lagu Melayu atau lagu India yang enerjik, yang diputar malah lagu Indonesia, lagu baru pula. Mungkin kru penerbangannya ngefans sama Ariel kali ya, hehe.

Air Asia, KL - Kolkata

Setelah melewati proses imigrasi yang lambat dan memakan waktu sekitar 30 menit, kami segera keluar mencari taksi. Waktu itu pukul 18.00 sore dan hari sudah gelap. Nggak banyak yang bisa kami lihat di kawasan bandara ini, tapi sepertinya bandaranya tidak terlalu besar dan tidak crowded seperti perkiraan. Hanya beberap gelintir orang yang terlihat berada di area kedatangan. Kami mengambil taksi berwarna putih menuju Howrah Railway Station dan minta ngebut buat mengejar kereta jam 18.50. Selama di perjalanan, kami menyaksikan riuhnya Kalkuta di malam hari. Mulai dari pinggir jalan, toko-toko, bus, dan becak semuanya nggak ada yang sepi. Setiap bangunan yang kami lihat dan jalanan yang kami lalui mengesankan kuno-nya kota yang pernah menjadi ibukota India ini. Di beberapa sudut jalan kerap terlihat acara pemujaan Hindu dengan kliningan lonceng lengkap dengan kerlipan lampu warna-warni dan asap dupa. Setiap orang di pinggir jalan tampak berjalan mengenakan jaket, tutup kepala, selendang, hingga menyampirkan selimut ke tubuhnya karena memang udara malam musim dingin sangat menusuk. Kami yang berada di taksi juga bersiap-siap menutupi tubuh kami dengan sweater, jaket, dan selendang.

Menurut Google Maps dan beberapa sumber terpercaya lain, jarak airport ke stasiun adalah sekitar 22 km dan dengan waktu normal bisa ditempuh dalam 30 menit. Tapi dengan kondisi jalanan yang riuh dan macet di beberapa tempat ini membuat kami menjadi pesimis. Benar saja, jam sudah menunjukkan pukul 18.45 dan kami masih terjebak di lampu merah entah dimana. Nurul mulai mencak-mencak sama Pak Supir taksi, "Kereta kami udah mau berangkat nih.. Cepetan doong..!!" Pak supir taksi berkumis rapi juga mulai emosi, "Nggak liat apa nih macet kayak gini?". Dengan balas-balasan ngomel, kami sampai di Stasiun Howrah pukul 19.05 dan masih berharap kalo keretanya juga delay (Indonesia banget). Kami segera berlari menyandang backpack dan menenteng tas menerobos kerumunan orang-orang di stasiun yang superrrr crowded ini. Stasiun kereta di India sangat meriah dengan suara pengumuman informasi yang diputar berulang-ulang dengan rekaman suara wanita berbahasa Hindi dan English. Kami menuju papan pengumuman namun tidak mendapat informasi yang berarti, kemudian segera meluncur mencari platform 10 sesuai yang tertera di tiket kereta. Tidak lama kami mendapati platform 10 yang sudah kosong, lalu bertanya kepada beberapa orang yang semuanya menjawab "Kereta ke New Delhi sudah berangkat". Oh My God, mimpi buruk itu menjadi kenyataan.

tiket kereta Kolkata - New Delhi yang hangus

Dengan gontai kami berjalan ke kantor informasi, berharap ada kereta selanjutnya ke New Delhi. Singkat cerita, kami akhirnya membeli tiket dari calo seharga hampir Rs4.000 (sekitar Rp800.000) untuk kereta ke New Delhi pukul 23.00. Jadwal kereta ini awalnya adalah pukul 19.40, namun karena cuaca buruk dan kabut keretanya jadi terlambat. Kami yang sudah putus asa dan tidak ada ide jika harus menginap di Kalkuta, terpaksa mengambil tiket kereta kelas AC tersebut. Kami menunggu sambil duduk di kursi ruang tunggu kereta. Selama lebih kurang 5 jam, kami mengamati denyut kehidupan malam di stasuin kereta di India. Stasiun ini sudah seperti barak pengungsian yang penuh dengan ratusan orang yang menghampar di lantai. Rata-rata mereka bukan pengemis atau homeless people, melainkan calon penumpang kereta yang sama seperti kami, menunggu jadwal keberangkatan kereta tengah malam atau esok hari. Orang-orang tampak hilir mudik dengan menenteng tas dan koper yang super besar yang sebagian ditenteng diatas kepala, tak peduli pria atau wanita. Hampir sebagian penumpang kereta jarak jauh di India terdiri atas satu keluarga besar yang terdiri dari paling tidak Bapak, Ibu, dan anak. Tidak jarang ada Kakek dan Nenek segala. Karena sudah lelah dan masih shock dengan tragedi keterlambatan pesawat dan ketinggalan kereta, kami tidak punya gairah mengambil 1 foto pun dan sepertinya hanya kamilah turis yang terlihat di stasiun ini.

Kami menunggu dan terus menunggu menuju jam 23.00 sambil mengamati setiap inchi kehidupan di stasiun. Seringkali aku merasa bahwa kamilah yang menjadi sumber pengamatan orang-orang di stasiun yang suka curi-curi pandang ke arah kami. Namun entah kenapa, kami tidak merasa takut karena memang cuma diliatin dan nggak diapa-apain. Malah kami merasa nyaman berbaur ditengah ramainya orang-orang di stasiun. Di sini kami mulai mengenal chai, teh khas India yang terbuat dari susu, gula, rempah, dan daun teh yang terasa sangat nikmat di musim dingin seperti ini. Di stasiun, pinggir jalan, hingga di gerbong kereta selalu terdapat pedagang chai yang meneriakkan daganganya, "Chai, chai, chai!"

Kurang 20  menit dari pukul 23.00 kami beranjak dan mulai berjalan menuju platform 16. Lalu kami melihat papan pengumuman dan disana sudah ditempel nama-nama penumpang lengkap dengan nomor coach (gerbong) dan tempat duduknya. Disini aku angkat topi dengan sistem perkeretaapian di India yang sangat maju dan bisa diakses dari seluruh dunia lewat internet, seperti yang kulakukan saat pemesanan tiket kereta api selama perjalanan di India lewat https://irctc.co.in, atau bisa juga lewat cleartrip.com (sistemnya ya, bukan praktiknya yang kadang masih suka telat). Memang aku tidak menemukan nama kami secara tiket yang kami pesan adalah tiket dadakan dari sang calo, yang kami temukan hanyalah daftar tempat duduk cadangan yang kosong yang tiketnya sudah kami pegang. Tidak lama kereta kami datang dan ratusan penumpang tampak berlari kecil mengejar gerbong tempat duduk masing-masing. Kami yang baru saja melihat pemandangan ini ikut berlari-lari kecil mencari gerbong AC Two Tier. Saat menemukan gerbong yang tertera di tiket, kami memastikannya dengan bertanya pada bapak-bapak yang berada di dalam kereta. Eh, ternyata nama-nama penumpang yang kami lihat di papan pengumuman tadi juga ditempel disetiap gerbong. Jadilah kami menaiki gerbong kereta yang nyaman yang dilengkapi dengan tirai yang menutupi tempat tidur (aku akan jelaskan tentang perkeretaapian di India di post berikutnya).

Kereta perlahan mulai bergerak pukul 23.00 malam. Perjalanan sepanjang 1.461 km dari Kolkata ke New Delhi selama lebih dari 24 jam ini akan kami nikmati esok hari saja. Setelah mencuci muka dan buang air di toilet yang cukup bersih, kamipun bersiap-siap untuk tidur dengan punggung dan kaki yang sudah sangat lelah. Aku sempat merenung mengingat kembali perjalanan yang panjang dan melelahkan di hari ini, yang kutempuh lebih dari 24 jam akibat perbedaan waktu 2,5 jam antara Malaysia dan India. Kemudian aku tertidur sambil memeluk ransel kecilku.

Saturday, February 2, 2013

Why India? (Plus Trip Itinerary)

Haaampir semua orang yang kuberitahu tentang rencana jalanku ke India memberi respon yang negatif. Mau ngeliat apa di India? Mau ketemu Shahrukh Khan (ngeledek)? Negara kumuh, bau, dan orang-orangnya jahat gitu? Bla.. bla.. bla..
Alamak... Sebegitu jeleknya-kah reputasi India sebagai negara tujuan wisata di mata orang Indonesia? 
Jujur aku sendiri juga bingung menjelaskannya karena begitu banyak alasan kenapa aku ingin sekali menginjakkan kaki di negeri Mahatma Gandhi ini, tapi yang pasti inilah awal ketertarikanku pada India:
Semester 6 kemarin aku mengikuti mata kuliah Bahasa Inggris 2, dan tugas akhir dari mata kuliah ini adalah oral presentation tentang satu negara secara utuh mulai dari sejarah, bentuk pemerintahan, lokasi geografis, ekonomi, sosial-budaya, kesehatan, pendidikan, seni, makanan, dan lain sebagainya. Setelah dilakukan pengundian tentang negara-negara di 5 benua, aku dapat India. Mulanya aku pikir, ih... India? Rasanya aku lebih senang kalau disuruh mengeksplor negara-negara maju Eropa seperti Inggris atau Jerman, tapi... ya... sudahlah... Pencarianpun dimulai.

Aku mulai browsing-browsing tentang India dari berbagai aspek untuk dipresentasikan di depan kelas. Pencariannya nggak main-main tentunya karena presentasi ini menyangkut nilai mata kuliah. Seiring berjalannya waktu, aku menemukan banyak hal-hal menarik seputar negeri Sungai Gangga ini, seperti keragaman agama, seni dan budaya, makanan, sumber daya alam, serta karakter orang-orangnya. Coba bayangkan deh, India itu populasinya bueeesaaaar banget, tersebar dimana-mana di seluruh dunia, dan-setelah kuamati-selalu muncul dalam cerita-cerita populer baik fiksi maupun non-fiksi.

JK Rowling saja memasukkan karakter penyihir kembar Padma Patil dan Parvati Patil sebagai teman satu asramanya Harry Potter. Dalam buku Edensor, Andrea Hirata menulis bahwa ia bersahabat dengan seorang India yang menjadi pesaingnya dalam lomba backpacking keliling Eropa. Pada cerita anak-anak Charlie and The Chocolate Factory, Roald Dahl memasukkan karakter Raja India yang meminta Willy Wonka untuk membuat istana yang terbuat dari cokelat. Dalam film-film Hollywood juga banyak ditemukan karakter orang India mulai dari pemain figuran seperti supir taksi, perawat, penjaga toko, mafia, miliuner, dokter, hingga profesor. Sampai iklan Windows 8 di Indonesia yang mulanya tayang dengan lagu bahasa Inggris sekarang berubah jadi versi India dengan musik dan tari yang enerjik, yiiihaaaaa.... Indian is everywhere lah pokoknya...

Belum lagi kehidupan beragama di India yang lebih beragam dari Indonesia--dari Hindu, Islam, Sikh, Budha, Jain, Nasrani, Jewish--dan tidak ketinggalan sistim pendidikan yang menurutku pribadi patut diacungi jempol (walaupun dalam praktiknya masih kuno banget).

Setelah jatuh hati dengan keunikan-keunikannya, aku mulai cari peluang "mungkin nggak yah aku menginjakkan kaki di India?" Alhamdulillah setelah niat dan usaha yang bersimbah keringat dan bercucuran air mata, aku berhasil menjemput kesempatan emas untuk mewujudkan mimpiku ke India dengan biaya pribadi alias nabung dan bekerja sambilan selama lebih kurang 9 bulan lamanya. Bersama dengan seorang teman, kami menyusun rencana untuk mengeksplor India bagian timur dan utara selama 15 hari dengan itinerary sebagai berikut:
  • 14 Jan 2013: Jakarta-KL (by airplane)
  • 15 Jan 2013: KL-Kolkata (by airplane)
  • 16 Jan 2013: Kolkata-New Delhi (Second AC Class Train)
  • 17 Jan 2013: New Delhi (visiting Lotus Temple, Qutb Minar, Lajpat Nagar)
  • 18 Jan 2013: New Delhi
  • 19 Jan 2013: New Delhi-Agra (by train, visiting Taj Mahal, Agra Fort, Fatehpussikri), Agra-Khajuraho (by train)
  • 20 Jan 2013: Arrive in Khajuraho (visiting Khajuraho Temple), Khajuraho-Varanasi (by train)
  • 21 Jan 2013: Arrive in Varanasi (visiting Gangga River, Kashi Vishwanath Temple, and seeing Aarti Ceremony), Varanasi-New Delhi (by train)
  • 22 Jan 2013: Arrive in New Delhi
  • 23 Jan 2013: New Delhi
  • 24 Jan 2013: New Delhi-Amritsar (by train, seeing flag-closing ceremony at Attari Border)
  • 25 Jan 2013: Amritsar (visiting Golden Temple), Amritsar-New Delhi (by train)
  • 26 Jan 2013: New Delhi (seeing Republic Day Ceremony Parade)
  • 27 Jan 2013: New Delhi-Kolkata (by train)
  • 28 Jan 2013: New Delhi-Kolkata (by train)
  • 29 Jan 2013: Kolkata-KL (by airplane)
  • 30 Jan 2013: KL-Jakarta (by airplane)

Here is the map: