Sunday, February 17, 2013

India Trip (Part 3: New Delhi - Agra)

(18 Jan 2013)
Setelah hari kemarin berkeliling Lotus Temple, Qutab Minar, naik metro, dan pasar Chandni Chowk hari ini rencananya kami mau mengeksplor tempat-tempat wisata bersejarah Jama Masjid, India Gate, dan Old Delhi. Tapi rencana tinggallah rencana, di pagi buta hujan turun mengguyur Delhi di musim dingin. Udara yang sudah dingin menjadi semakin menusuk. Bangun tidur aku membuka balkon kamar hostel dan melihat suasana yang gloomy, yang bikin nggak selera buat main ke luar. Pedagang buah dan sayur mulai berdatangan dengan gerobak-gerobak yang ditutupi plastik kemudian teriakan mereka memecah pagi yang sendu itu.

Toko sayuran yang terdapat di depan hostel

Pedagang buah dengan gerobak yang banyak terdapat di sekitar hostel

Kami tidak menyangka hujan turun semakin deras. Saat berbincang dengan staff hostel ia bilang kalau musim dingin seperti ini nggak biasanya turun hujan. Wah, alamat mati gaya seharian nih, ckckck.

Sekitar siang jam 2-an hujan baru mulai reda, tapi hawa dingin masih tetap menusuk. Disinilah pertama kali bagiku mengeluarkan asap waktu berbicara, bahkan saking dinginnya waktu pipis-pun keluar asap. Setelah sinar matahari mulai kelihatan sekitar jam 3-an  kami memutuskan jalan ke pasar. Aku lupa nama pasarnya, tapi di sini kami puas berkeliling dan belanja kurti (dress panjang a la wanita India), scarf obral, gelang krincing-krincing, dan sepatu (ini diluar perkiraan karena dengan bodohnya aku traveling hanya membawa sandal). Kami juga mencicipi makan di restoran yang rada bagus sedikit, dan memesan veg biryani (nasi biryani sayur) serta dosa masala, sejenis crepes besar gurih yang didalamnya terdapat kentang tumbuk dan dimakan dengan kuah kari dan curd (yoghurt).

Veg Biryani dan Dosa Masala yang gurih

Aku baru sadar kalau rumah makan di India banyak yang bergaya standing party, tidak ada kursi melainkan hanya terdapat meja setinggi dada, dan pengunjung makan sambil berdiri. Setelah kenyang makan dengan porsi kuli (setiap menu makanan India di India porsinya selalu buanyakkk), kami melihat stand jajanan. Ada satu yang menarik perhatian kami, yaitu menu bernama momo. Aku pernah baca kalau momo itu adalah dim sum a la India, yang isinya sayur dan kacang-kacangan. Karena penasaran, jadilah kami mencicipinya dan ternyata rasanya enak, ditambah lagi dengan saos cabe yang asem-asem pedas.

Sebelum hari beranjak gelap, kami segera balik ke hostel untuk mempersiapkan perjalanan esok hari, yaitu kota bersejarah Agra.


(19 Jan 2013)
Kami memulai hari ini lebih pagi dengan penuh semangat, karena hari ini kami akan mengunjungi Agra, kota-nya Taj Mahal, menggunakan kereta dari Nizamuddin Train Station. Kereta berangkat jam 07.00 pagi dengan jarak tempuh sekitar 3 jam dari New Delhi. Di kereta kursi duduk 90 derajat ini kami berbaur dengan masyarakat India dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, bapak-bapak, suami-istri-anak, kakek-nenek, penjaja makanan, pengemis tua, pengemis anak, hingga (maaf) banci yang bikin aku takut...

Jam 10.20 kereta sampai di stasiun Agra Cantt. Hal pertama yang kami lakukan adalah menemukan cloacker room atau ruang penitipan barang, karena kami membawa backpack besar untuk perjalanan hingga 3 hari ke depan. Sampai di cloack room, ternyata sudah banyak turis yang antri dan kebanyakan adalah turis Asia, yang kemudian aku tahu sebagian besar adalah asal Korea Selatan.

Keluar dari stasiun kami naik autorickshaw (bajai) ke Taj Mahal, jaraknya sekitar 20 menit dan diteruskan jalan sedikit hingga ke pintu gerbang pembelian karcis. Tiket masuk untuk warga asing adalah Rs 750 (Rp 150.000) sedangkan untuk warga India hanya Rs 20 (Rp 4.000) saja! Tapi turis asing mendapat pelayanan yang lebih baik, seperti diberi penutup kaki pengganti alas kaki yang harus dilepas dan air mineral botol. Sebenarnya disediakan jasa tourist guide hingga ke dalam, tapi karena musti membayar lagi kami memutuskan tidak mengambilnya. Sebelum masuk ke pintu gerbang, semua pengunjung melewati pintu penjagaan yang ketat dan scanner seperti di bandara. Kemudian barisan perempuan dan laki-laki dipisah untuk diperiksa seluruh anggota badan dan isi barang bawaannya.

Setelah melewati pos penjagaan dengan antrian yang superrr panjang, kami disambut sebuah bangunan besar  berwarna merah yang merupakan gerbang masuk Taj Mahal. Aku memasuki gerbang ini dengan dag-dig-dug karena tepat di depanku istana Taj Mahal berdiri dengan anggunnya walau diliputi kabut tipis tetap memantulkan sinar keemasan matahari pagi. Nggak tau kenapa aku merinding, dan rasanya ingin nangis *drama queen*

Gerbang masuk Taj Mahal yang tinggi dan besar

Kami terus berjalan dan berjalan mendekati Taj Mahal yang megah ini. Karena pengunjung hari itu yang menurutku ruameeeee sekali, jadi sulit untuk menemukan spot buat foto-foto. Semua sudut dipenuhi oleh orang dengan pose aneka gaya, apalagi banyak turis lokal yang pose-nya bikin aku tertawa. Saat memasuki pintu Taj Mahal terdapat petugas pengamanan yang melarang segala bentuk dokumentasi. Kami masuk ke dalam, dan ternyata di dalamnya terdapat 2 makam yang terletak berdampingan. Konon katanya itulah makam Shah Jahan, raja yang membangun Taj Mahal sebagai lambang cintanya pada sang istri Mumtaz Mahal, yang meninggal saat melahirkan anak ke-14 mereka. Hingga kini lambang cinta sejati itu masih gagah berdiri dan akan tetap abadi sepanjang masa (Ameen).

Taj Mahal (1)

Taj Mahal (2)

Ukiran pada marmer dinding Taj Mahal

Taj Mahal dari halaman belakang yang sepi dari pengunjung

Puas menjelajahi Taj Mahal dari depan hingga ke belakang, kami perlahan berjalan keluar. Kami berpapasan dengan antrian pengunjung yang seakan tidak ada habisnya memasuki gerbang Taj Mahal. Di perjalanan menuju pintu keluar ini kami sempat bertemu dengan om Tantowi Yahya lhoo, hehehe... Tujuan selanjutnya adalah Agra Fort, atau benteng merah. Jaraknya 2 kilometer dari Taj Mahal dan walaupun banyak auto wala (supir bajai) yang menawarkan jasanya, kami putuskan untuk menempuhnya dengan berjalan kaki saja.

Agra Fort adalah benteng yang dibangun pada masa pemerintahan Shah Jahan dahulu. Dan dari salah satu sudtut benteng ini kita dapat melihat Taj Mahal berdiri dengan megahnya. Konon katanya Shah Jahan memandangi Taj Mahal dari benteng ini untuk mengenang istrinya Mumtaz Mahal. Di sini juga banyak guide lokal yang menjelaskan tentang sejarah Agra Fort dengan berbagai bahasa, dan yang paling aneh buatku adalah saat melihat bapak-bapak India dengan cas-cis-cus meng-guide sekelompok turis Jepang menggunakan Bahasa Jepang!

Gerbang Agra Fort

Salah satu sudut taman Agra Fort

Taj Mahal dilihat dari Agra Fort

Waktu menunjukkan pukul 1 siang saat kami selesai menjelajahi Agra Fort, sedangkan waktu keberangkatan kereta ke Khajuraho masih jam 23.20 malam. Kami kemudian memutuskan untuk pergi ke Fatehpur Shikri, sebuah bangunan bersejarah peninggalan dinasti Mughal pada masa lalu. Fisik bangunannya masih senada dengan bangunan yang terdapat di seputaran Taj Mahal dan Agra Fort, tapi di Fatehpur Shikri terdapat sebuah makam yang menjadi tempat ziarah banyak kaum muslim. Dengan jarak 30 km dari pusat kota Agra, kami berangkat menuju Fatehpur Shikri dengan menggunakan bus.

Sampai di terminal Fatehpur Shikri ternyata harus berjalan lagi melewati pasar tradisional hingga sampai di bangunan utama. Melewati pasar yang riweh dan cukup berantakan ini membuatku jadi kehilangan semangat, tapi sudah sampai terminal masa' mau balik kanan? Akhirnya kami berjalan dan terus berjalan hingga menaiki tangga menuju gerbang Fatehpur Shikri. Oiya disepanjang perjalanan kami juga terus diikuti anak yang mengaku sebagai guide dan meminta (tepatnya maksa) kami agar menggunakan jasa guide-nya. Walau sudah kami tolak baik-baik, dia terus meyakinkan dengan Bahasa Inggris aksen India lengkap dengan goyangan kepala ke kiri dan ke kanan. Kemudian kami memasang muka "keras" dan nggak menggubris sama sekali, tapi tetap saja diiikutin sampai akhirnya.... Dia capek sendiri dan balik kanan.

Begitu melewati gerbang masuk Fatehpur Shikri, barulah capek dan cenat cenut di badan sedikit menguap. Kami disambut dengan alunan musik dari sekelompok pemain musik (seperti orkestra gambus) di dekat bangunan tempat ziarah Fatehpur Shikri. Kompleks bangunan ini sangat luas, meskipun tidak banyak turis asingnya. Hembusan angin sore ditambah dengan siluet jingga sinar matahari yang mulai condong ke barat membuat tempat ini terasa romantis-romantis gimana... gitu..., hehehe....

Gerbang Fatehpur Shikri

Kambing yang menyambut di gerbang Fatehpur Shikri

Pemain musik di dalam Fatehpur Shikri

Inside Fatehpur Shikri

Sunset in Fatehpur Shikri

Sebelum hari beranjak gelap kami kembali ke terminal pasar untuk menaiki bus kembali ke kota Agra. Sama seperti di Jakarta, bus baru akan berangkat setelah bangku penumpang terisi semua. Bus akhirnya berangkat setelah hampir 30 menit kami menunggu di dalam bus bersama dengan warga lokal dan 2 bapak-bapak turis asal Jepang. Setibanya di Stasiun Agra, hari sudah gelap. Kami menuju cloack room untuk mengambil backpack, kemudian menunggu jadwal keberangkatan kereta menuju Khajuraho pukul 23.20 di ruang tunggu stasiun yang sudah dipenuhi oleh turis bule dan Asia.

No comments:

Post a Comment