Thursday, March 28, 2013

India Trip (Part 9: Kolkata - KL - Jakarta)

(27 Jan 2013)
Hari ini adalah hari terakhir kami di New Delhi, karena nanti sore jam 4.20 kami akan berangkat menuju Kolkata lalu terbang ke Kuala Lumpur dan kembali mendarat di Jakarta. Kami mengemas backpack kami dengan sedih karena liburan di negeri yang penuh dengan sari berwarna-warni ini akan segera berakhir. Jam 12.30 kami check out dari hostel dengan mengucapkan salam perpisahan kepada staf hostel yang baik dan ramah. Mereka melepas kami dan berpesan untuk segera kembali lagi ke India. Kami naik auto ke pasar Pahar Ganj, daerah pusatnya wisatawan di India, yang terletak persis di depan New Delhi Railway Station. Jujur saja, meskipun Pahar Ganj terkenal sebagai tempatnya hostel murah di New Delhi, kami tidak memilih untuk tinggal di sana karena kami mendapat rekomendasi untuk tinggal di daerah Bharatnagar, yang sedikit lebih adem dari hingar bingar pasar dan lalu lalang turis namun tetap berada di pusat kota. Kami lalu berkeliling pasar yang penuh oleh turis-turis bule, auto wala, dan penjaga-penjaga toko yang sibuk menyapa kami dengan aksen India yang khas "Halooo Madaam!! Come to my shop please... You need a room? Where do you come from?".

Setelah itu kami makan siang di sebuah restoran bergaya standing party di pojok pasar yang penuh sesak karena saat itu pas jam makan siang. Menunya apalagi kalau bukan roti dan curry, namun lidahku sudah terbiasa dengan makanan ini dan perlahan-lahan mulai menggemarinya.

Jam 3.00 kami melangkahkan kaki ke stasiun. Di gerbang masuk, semua barang diperiksa dengan rolling screening seperti di bandara. Tidak lama kemudian aku melihat screen informasi keberangkatan, tapi tidak menemukan jadwal keberangkatan Poorva Express ke Kolkata. Aku dan Nurul meneliti lebih seksama lagi, kami menemukannya di barisan bawah dan... kereta kami delay 8 jam! Jadwal yang seharusnya pukul 4.20 mundur jadi pukul 24.00. F*ck!ng asshole train!!!

Tidak banyak yang dapat kuceritakan dari 8 jam delay paling menyebalkan dalam hidupku hari itu. Kami hanya duduk-duduk diluar gerbang keberangkatan stasiun menyaksikan orang-orang berlalu lalang dengan berbagai gaya dan barang bawaan: ada anak bujang yang dilepas ibunya dengan peluk dan cium, sebuah keluarga kecil yang membawa bocah balita imut-imut, sepasang turis bule lanjut usia yang tampak kebingungan menggeret koper beroda, serombongan ibu-ibu mengenakan sari berwarna-warni, pejabat yang datang diantar dengan mobil militer, segerombolan pemuda alay lengkap dengan kacamata hitam dan jaket kulit bertuliskan Champion, tidak ketinggalan seorang pemuda sendu yang duduk sendiri di sebelahku. Feature orang-orang yang lewat juga beragam: ada yang berkulit legam ada juga yang terang, ada yang berhidung panjang ada juga yang pesek, ada yang bermata bulat ada juga yang sipit seperti orang Cina. Boleh kusimpulkan, kalau ingin melihat the real India, pergilah ke stasiun keretanya.

Angin dingin berhembus dan hari mulai gelap, kami lalu masuk ke ruang tunggu stasiun dan kembali menunggu. Menunggu. Dan menunggu. Hingga akhirnya kereta berangkat meninggalkan New Delhi di hari berikutnya tanggal 28 Januari pukul 00.45.

Entry Gate of New Delhi Railway Station 

New Delhi Railway Station

In front of Pahar Ganj

(28 Jan 2013)
Perjalanan New Delhi - Kolkata selama lebih dari 24 jam kami habiskan di kereta Poorva 'asshole-delayed' Express ini. Kereta ini tidak senyaman kereta-kereta yang pernah kunaiki sebelumnya. Entahlah mungkin karena penumpangnya lebih tidak beraturan, tapi yang jelas physically kereta ini tampak lebih tua dan reyot. Tidak ada turis yang terlihat menumpang kereta saat itu. Aku tidur, bangun, makan, tidur lagi, bangun, dan begitu seterusnya hingga punggungku pegal dan pantatku sakit. Sesekali aku juga berjalan-jalan di gerbong dan turun di beberapa stasiun yang berhenti lama. Oh Kolkata... Cepatlah mendekat...

(29 Jan 2013)
Jam 4.30 pagi aku terbangun karena guncangan kereta dan grasak-grusuk orang lalu lalang di gerbong. Aku bertanya pada seorang penumpang, dan ia menjawab kalau sebentar lagi kereta akan sampai di Kolkata. Aku segera bangun, mencuci muka, dan menyiapkan ransel. Satu setengah jam kemudian kereta berhenti dengan sempurna di Stasiun Howrah Kolkata, yang kondisi crowded-nya di malam hari masih kuingat dengan jelas. Hari masih gelap dan angin dingin masih berhembus membekukan tulang. Kami memilih untuk tetap menunggu di stasiun hingga matahari terbit sembari minum chai dan memperhatikan pedagang koran sibuk menyusun koran-koran yang akan dibagikan pagi itu. 

Saat matahari mulai terbit, kami melangkah ke luar stasiun menuju sebuah wisma tempat menginap di sebelah stasiun yang dikhususkan untuk turis atau penumpang kereta yang ingin bermalam. Syaratnya adalah menunjukkan tiket kereta yang akan digunakan untuk keberangkatan dari Stasiun Howrah. Karena sudah tidak punya tiket kereta lagi, yang kami tunjukkan hanya tiket pesawat ke Kuala Lumpur nanti sore dengan harapan kami diberi ruang untuk mandi dan istirahat sebentar. Eh... Ternyata tarifnya mahal sekali. Meskipun hanya untuk mandi dan istirahat yang tidak sampai 10 jam, satu orang dikenakan Rs 800 (sekitar Rp 160.000). Bukannya pelit tidak mau menghabiskan sisa uang di hari terakhir trip ini, tapi kenyataannya memang uang kami tidak cukup untuk membayarnya. Kami lalu balik kanan dan kembali lagi ke stasiun, mencari ruang kamar mandi umum. Syukurlah kami menemukannya di lantai 2 stasiun. Ruangnya luas dan terdiri dari beberapa bilik kamar mandi yang cukup bersih. Untuk buang air kecil dan menyikat gigi dikenakan tarif Rs 5, sedangkan untuk mandi dikenakan tarif sekitar Rs 10.

Selesai mandi, kami berjalan meninggalkan stasiun. Kami menyusuri pasar yang baru buka dibawah hangatnya sinar matahari pagi, hingga sampai di salah satu ujung Jembatan Howrah, jembatan kebanggaan masyarakat Kolkata yang membentang diatas Sungai Hooghly. Di sepanjang jembatan ini, kami berpapasan dengan pekerja kantoran yang berjalan cepat, pedagang-pedagang bunga (karena dibawah jembatan ada pasar bunga), dan homeless people yang tampak berjalan gontai tak tentu arah. Sampai di kawasan pertokoan, aku semakin merasakan aroma tua-nya kota ini: banyak bangunannya yang masih bernuansa Inggris, trem-trem tua bergambar Salman Khan masih melintas di tengah jalan, bis-bis tua yang sudah reyot, taksi kuno berwarna kuning masih beroperasi, dan aku sempat menyaksikan orang-orang (lelaki tentunya) mandi di keran-keran air di depan toko. 

Pedestrian at Howrah Station (pix from Google)

Trem yang melintas di jalanan Kolkata

Trem and Yellow Cab in Kolkata

Kami mencari tempat makan untuk sarapan, tapi tidak menemukan yang cocok di hati. Lalu kami memutuskan untuk langsung menuju bandara. Untuk transportasi menuju bandara, tersedia bis yang lebih bagus yang penampakannya seperti busway (herannya malah lebih bagus daripada bis Damri Jakarta). Di perjalanan, kami seperti terlempar beberapa tahun lebih maju karena di sini kami melihat sisi Kolkata yang lebih baik dari yang kami saksikan di pasar tadi. Tapi sayang sekali, kami tidak sempat mengunjungi beberapa objek wisata di Kolkata seperti Victoria Memorial Hall dan India Museum.

Kami brunch (breakfast+lunch) di Netaji Subhas Chandra Bose Airport, lalu mengelilingi bandara yang sedang dalam tahap perluasan ini. Bandaranya tidak terlalu kecil seperti dugaanku saat pertama kali mendarat 2 minggu lalu, tapi juga tidak sebesar Bandara Soekarno Hatta di Jakarta. Asyik berjalan-jalan, eh... kami bertemu kembali dengan supir taksi yang membawa kami ke Stasiun Howrah saat pertama kali kami menginjakkan kaki di India, yang (sedikit banyak) berkontribusi dalam tragedi ketinggalan kereta waktu itu. Aku ingat betul wajah dan kumisnya (bagaimana mau lupa, saat itu kami sempat balas-balasan ngomel karena panik takut ketinggalan kereta). Aku dan Nurul sudah siap mau berbalik arah, tiba-tiba ia mendekat dan menegur kami, "Hey Madam, you are that time that riding my taxi. Are you? Are you?". Kami terus berjalan pura-pura tidak mendengar, eh... dia malah mengikuti. "Hey.. hey.. You still have debt on me"

What??? Hutang apaan? Ternyata dia menganggap kami masih kekurangan bayar taksinya waktu itu. Huh, enak saja! Sudah ketinggalan kereta, minta bayaran mahal pula. Kamipun berhenti dan menjawab, "What are you saying Sir? We missed our train because of your slow driving. Now what should we pay? We already give you 600 rupee, asshole", (kata terakhir diucapkan dalam hati). Dia membalas dengan ocehan bahasa Hindi dan geleng-geleng kepala, yang membuat kekesalan kami berputar menjadi kegelian menahan tawa. Kami tetap tidak menanggapi ocehannya, lalu dengan sigap meninggalkannya dengan meluncur masuk ke ruang tunggu dalam bandara. Dari panel kaca, kami memerhatikan gerak geriknya di luar bandara. Oh... Ternyata dia supir taksi tembak yang berkeliaran mencari penumpang di bandara, bukan supir taksi resmi pre-paid taxi. Pantas saja kami bertemu lagi dengannya, hehehe.

Tepat jam 3.00 kami check in lalu menuju desk imigrasi. Petugasnya menghantam pasporku dengan cap merah tanda berakhirnya visa lalu berkata, "Miss Siti, your stay permit in India has been over. Thank you for visiting India", yang membuatku sediiih sekali. Kami berjalan lunglai bukan kerena lelah, tapi karena sedih mengakhiri petualangan di negeri yang sungguh luar biasa ini. Pesawat Air Asia yang membawa kami lepas landas jam 6.10, dan aku hanya bisa memandangi kerlap-kerlip Kolkata di malam hari dari jendela pesawat yang terasa sangat indah. Semakin jauh pesawat terbang cahayanya semakin kecil, lalu perlahan redup digantikan kegelapan malam. Tidak terasa air mataku menetes. Oh... India... I will definitely be back again. 

Aku tertidur dengan membungkus rapi semua kenangan dan pengalaman yang sangat berharga dalam memoriku. Empat  jam kemudian, aku terbangun dengan melihat Kuala Lumpur dibawah pandangan mata. Sampai di LCCT, aku dan Nurul melanjutkan tidur di mushola.

(30 Jan 2013)
Pagi ini aku dan Nurul akan kembali ke tanah air. Nurul kembali ke Surabaya, sedangkan aku ke Jakarta. Karena penerbangan ke Surabaya lebih awal, Nurul harus check in lebih dulu. Kami berpisah setelah sarapan nasi lemak bersama. Tidak banyak kata terucap, yang ada hanya senyum-senyum kembang-kempis mengenang 15 hari petualangan kami di India, yang walaupun penuh dengan lika-liku, syukur alhamdulillah berakhir dengan selamat. 

Sekian catatan 15 hari petualanganku di India. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang akan melakukan perjalanan ke India. Do not worry too much, do not expect too much. Just pack your bag, and go!!!

Thursday, March 21, 2013

India Trip (Part 8: New Delhi)

(26 Jan 2013)
Walaupun malamnya baru tidur sekitar jam 12, pagi ini kami tetap bangun lebih awal. Tau kenapa? Karena hari ini, tanggal 26 Januari, adalah Hari Republik India yang jadi hari libur nasional dan kami mau nonton parade Hari Republik di pusat kota New Delhi. Tercatat hari kemerdekaan India adalah tanggal 15 Agustus 1947, namun konstitusinya baru disahkan 3 tahun kemudian pada 26 Januari 1950. Dalam rentang waktu tersebut, penguasa Inggris saat itu masih disebut dengan Kaisar India. Setelah konstitusi disahkan, barulah bentuk negara republik diambil oleh India. Karena itu, hari disahkannya konstitusi ini dirayakan dengan parade militer di ibu kota New Delhi.

Dari kebaikan hati seorang teman warga lokal, kami dapat selembar undangan parade Hari Republik yang berlaku untuk 2 orang. Aku dijelaskan tentang cara menuju kawasan Rajpath Nagar tempat meyaksikan parade, apa yang boleh dibawa, apa yang tidak boleh, dan lain sebagainya. Parade akan dimulai jam 9.00 dan kami sudah harus sampai di tempat paling tidak jam 8.30. Dengan menumpang auto, kami berangkat dari hostel jam 7.00 dan sampai di lokasi jam 8.00. Sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi karena ketatnya pengamanan untuk parade ini sejumlah jalan protokol ditutup dan kami harus jalan kaki lumayan jauh sampai ke stadium penonton. Tak dinyana, kawasan ini sudah dipenuhi oleh ratusan (bahkan ribuan) orang yang datang dari seluruh pelosok negeri. Ada gerombolan anak muda, keluarga kecil yang membawa bayi, keluarga besar dengan lengkap dengan kakek dan nenek, dan lain sebagainya. Semua orang tampak memegang tiket yang sama, dan membuat barisan mengular menuju gerbang masuk. Di gerbang masuk kami melewati screening gate lalu badan diperiksa oleh petugas. Kamera, ponsel, makanan, minuman, benda tajam, benda berbahan besi, hingga uang koin dilarang masuk. Aku harus merelakan brooch selendang kesayanganku karena petugas wanitanya minta untuk dilepas.

Republic Day 2013 Invitation Card ;)
Setelah melewati gerbang, kami menuju stadium tempat duduk yang sudah terisi penuh. Kami akhirnya ikut berdesak-desakan digeret petugas keamanan untuk menuju lapangan tempat penonton menyaksikan pawai sambil berdiri. Tempat ini ternyata malah lebih crowded karena penonton yang tidak punya tiket juga menyaksikan dari sini. Alhasil, kami menonton parade sambil menduduki pagar besi dengan gaya boncengan sepeda motor karena badan kami yang kalah tinggi dari orang-orang yang berdiri di barisan depan tidak bisa melihat barisan parade dengan jelas *nasib berbadan kecil* (sayang sekali kamera nggak boleh dibawa masuk untuk mengabadikan momen menyebalkan ini, hehehe).

Tepat jam 9.00 acara dimulai dengan sambutan pembawa acara yang diperdengarkan lewat speaker. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Hindi yang kemudian diikuti dengan narasi berbahasa Inggris. Uniknya Hari Republik di India, setiap tahunnya satu kepala negara didaulat jadi chieft guest atau tamu kehormatan. Tahun 2012 kemarin chieft guest-nya adalah presiden SBY, dan tahun ini yang datang adalah King Jagme Khesar Namgyel Wangchuk dari Bhutan. Acara dilanjutkan dengan pidato dan kata sambutan dari para petinggi negara. Ternyata sama seperti di kita, acara mukadimah begini tidak begitu mendapat atensi (apalagi dari penonton berdiri yang sibuk sendiri mencari tempat yang teduh). Orang-orang yang datang membludak kebanyakan hanya untuk satu tujuan, yaitu untuk melihat pawai.

King from Bhutan (pict from here)
Pawai dimulai sekitar jam 9.30, dimulai dengan barisan pasukan tentara India berderap-derap dengan kostum yang unik. Dilanjutkan dengan replika pesawat tempur, buldozer, tank-tank baja, kapal laut, kapal selam, helikopter, roket lengkap semua yang memicu keriuhan penonton. Kemudian dari kejauhan tampak helikopter terbang rendah sekali seperti sedang menebarkan asap berwarna jingga. Semakin helikopter mendekat sorak sorai penonton semakin hebat, dan ternyata helikopter terbang menaburkan bunga-bunga berwarna jingga. Akupun ikut bersorak-sorak seperti orang kampung tidak pernah lihat pesawat dan loncat-loncat kegirangan menyambut hujan bunga saat helikopter melintas. Wiihh... Rasanya seperti sedang berada dalam salah satu adegan film Bollywood, hehehe...

Helikopter yang menaburkan bebungaan (pict taken from here)
Replika Agni V Missile India (pict taken from here)
Replika Indian Army BrahMos missile (pict taken from here)
Rangkaian acara yang tidak kalah ditunggu-tunggu saat pawai Hari Republik adalah arak-arakan dari masing-masing states (negara bagian atau provinsi) di India. Dimulai dengan barisan tentara states dengan seragam yang unik-unik, lalu pasukan army yang datang dengan menunggangi kuda, onta, dan gajah. Uniknya, disetiap arak-arakan kuda, onta, dan gajah, di belakangnya pasti diikuti dengan pasukan bersenjata sapu dan serokan, yang dengan sigap membersihkan kotoran-kotoran kuda dan unta yang tercecer di jalan. Aku sampai tertawa-tawa sendiri sekaligus kasihan juga melihat pasukan kecil yang terseok-seok di belakang ini. Setelah itu pawai dilanjutkan dengan arak-arakan kebudayaan masing-masing negara bagian.

Parade tentara militer India 1 (pict taken from here)
Parade tentara militer India 2 (pict taken from here)
Parade tentara militer India 3 (pict taken from here)
Setiap negara bagian menampilkan dekorasi unik berupa panggung berjalan yang menampilkan kebudayaan khas daerah, mulai dari busana, alat musik, destinasi pariwisata, tempat-tempat bersejarah, tokoh-tokoh terkenal, dan semua hal yang mewakili negara bagian tersebut. Di pawai ini aku menyaksikan bahwa India adalah negara yang sangat diverse; tidak melulu orang-orang berkulit legam, bermata bulat dan berhidung bangir, Taj Mahal, atau sungai Gangga. Pakaian tradisionalnya tidak hanya sari, tapi juga ada yang mirip-mirip pakaian adat Kalimantan yang berpotongan lengan pendek. Orang-orangnya juga ada yang berhidung pesek dan bermata sipit, yang biasanya berasal dari negara bagian Assam dan Sikkim yang secara geografis berbatasan dengan Cina.

Parade tari tradisional 1 (pict taken from here)
Parade tari tradisional 2 (pict taken from here)
Parade states atau negara bagian West Bengal (pict taken from here)
Saat arak-arakan pawai sedang berlangsung, aku dikejutkan dengan suara bass polisi dari speaker toa yang marah-marah menegur puluhan orang yang memanjat pohon demi melihat parade. Perhatian semua penonton pawai seakan tersapu ke arah belakang stadium tempat berbarisnya pohon-pohon rimbun yang sudah dinaiki puluhan orang nonton pawai. Beberapa polisi segera datang mendekati pepohonan dan menyerukan orang-orang diatasnya untuk turun sambil menenteng tongkat kayu. Orang-orang di atas pohon kemudian turun satu per satu tapi anehnya dengan air muka cengengesan dan tidak tampak rasa bersalah sedikitpun.

Tidak sampai 20 menit kemudian, aku dibuat kaget lagi oleh teriakan marah-marah polisi karena ternyata orang nonton pawai diatas pohon kembali beraksi. Kali ini polisi tidak main-main, dengan sigap mereka mengelilingi pohon menanti mangsa untuk mendaratkan tongkat kayunya ke pantat penonton-penonton bandel ini. Melihat teman-temannya kena pukul tongkat polisi, beberapa orang nekat meloncat dari atas pohon dengan membawa patahan ranting dan rerontokan daun lalu lari tunggang langgang. Atraksi pawai Hari Republik telah berganti menjadi atraksi loncat pohon. Semua orang berteriak dan bersuit-suit. Aku seperti mengalami deja vu, karena baru beberapa hari yang lalu menyaksikan adegan orang-orang manjat pohon di film Shahrukh Khan, kali ini aku menyaksikannya secara live, dan ikut menyemangati aktor-aktor panjat pohonnya. India... oh... India...

Seusai menyaksikan parade yang spektakuler ini, kami kembali berjalan menyusuri jalan protokol yang sepi karena ditutup dilanjutkan makan chapatti di pasar. Kami kembali ke hostel untuk istirahat dan mulai packing untuk perjalan kembali ke Kolkata esok hari.

Wednesday, March 13, 2013

India Trip (Part 7: Amritsar 2)

(continuation on 24 Jan 2013)
Pulang dari menyaksikan upacara penurunan bendera di perbatasan India-Pakistan di Attari Border, kami kembali ke pusat kota Amritsar yang berjarak 30 km dengan bus umum yang padat seperti yang kami naiki saat menuju Attari. Langit sudah gelap sempurna saat kami sampai di Stasiun Kereta Api Amritsar untuk mengambil backpack di cloack room. Tujuan berikutnya adalah mencari penginapan di dekat Golden Temple. Saat sebelum berangkat ke India, kami memang tidak membooking penginapan di kota Amritsar karena berdasarkan banyak informasi yang beredar, Golden Temple menyediakan tempat penginapan gratis bagi turis atau pengunjung dengan syarat memperlihatkan paspor atau tanda pengenal. Tapi sayangnya, kami tidak menyangka akan terjebak dimalam hari seperti ini. Jadilah dari stasiun kami menuju kawasan Golden Temple menggunakan rickshaw membelah jalanan Amritsar yang crowded di malam hari.

Sampai di Golden Temple, aku mulai kaget dengan ramainya orang lalu lalang mengenakan turban. Jika tidak mengenakan turban, bisa dipastikan mengenakan kain penutup kepala. Hal ini dikarenakan setiap orang tanpa terkecuali harus menghormati Golden Temple sebagai tempat peribadatan suci pemeluk Sikh dengan menutup kepala dan mengenakan pakaian tertutup. Turun dari rickshaw kami disambut dengan orang-orang yang menawarkan penutup kepala dan jasa hotel, tapi kami terus jalan sampai ke dalam komplek hingga ke sebuah bangunan bernama Shri Guru Ramdas Niwas, tempat penginapan gratis di komplek temple untuk pengujung dan peziarah. Kami masuk dan menanyakan bagaimana prosedur untuk menginap. Petugasnya yang bapak-bapak Sikh berbadan besar dengan kumis melengkung khas Inspector Veejay membuatku sedikit takut, hihihi... Tapi tenang saja, biar mayoritas bapak-bapaknya kelihatan sangar begitu, mereka berada di komplek Golden Temple ini untuk mengabdi dan menjalankan tugas melayani peziarah dan pengunjung.

Ia menggiring kami naik sebuah ruangan luas di lantai 2 yang penuh dengan locker besi dan lantai yang beralas karpet tebal berwarna hijau yang bersih. Tampak di ujung ruang sana, 3 orang tengah leyeh-leyeh dibalik selimut asyik mengobrol.Lalu Bapak Inspector Veejay berkata, "Kalian bisa menginap di sini dan simpan barang-barang kalian di locker ini".

Whatt??? Aku dan Nurul saling berpandangan. "Maksud kami, kami ingin tidur di satu kamar, bukan di tempat ini", aku menjelaskan. Ia menjawab, "Hmm... Tempat itu sudah penuh, yang tersisa hanya ruangan ini". Aku mencoba menawar sambil sedikit memelas, "Tolonglah, kami baru saja mengalami perjalanan jauh. Apa tidak ada tempat lain untuk menginap di komplek ini?". Ia menjawab pendek, "Nei.. Nei.. Nei... " tidak lupa gelengan kepalanya yang khas.

Selama sepersekian detik batin kami saling berdiskusi, kemudian mengambil keputusan walk out dari penginapan ini dan berjalan ke pasar di luar komplek Golden Temple yang ternyata penuh dengan penginapan. Kami memasuki satu penginapan yang dari luar tampak lumayan oke. Tanpa pikir panjang kami setuju dengan harga Rs.1000 (sekitar Rp200.000) yang tergolong mahal untuk ukuran backpacker seperti kami. Tapi apa boleh buat, badan kami sudah lelah semua. Tidak lupa sebelum tidur, kami mencari makan karena perut kami sudah tidak kuat dihadang dinginnya angin malam Amritsar.

(25 Jan 2013)
Hari ini kami bangun pagi sekali karena ingin mengikuti kegiatan do'a pagi pemeluk Sikh di Golden Temple. Jam 5 subuh kami sudah sampai di pelataran Golden Temple tanpa mengenakan alas kaki. Ya,  memang begitu peraturannya jika ingin memasuki tempat-tempat suci, alas kaki harus dilepas. Kami berjalan dengan cepat karena tidak ingin merasakan dinginnya gigitan lantai marmer berlama-lama. Karena hari masih gelap, kami menyaksikan terangnya cahaya keemasan yang menerangi bangunan utama Golden Temple yang terletak di tengah-tengah danau buatan. Konon kabarnya warna kuning pada bangunan ini terbuat dari emas asli, karena itu dinamakan Golden Temple. Kami ikut mengantri untuk masuk bersama dengan barisan panjang peziarah. Oh iya, sebelum masuk antrian masuk temple kami sempat membeli 1 pinggan dedaunan yang disediakan untuk memanjatkan do'a di dalam temple nanti. Satu hal unik yang aku amati, sebelum melewati pintu masuk, setiap pengunjung selalu menyentuh lantai dasar pintu sambil setengah sujud dilanjutkan dengan mencium ujung tangan. Ternyata, beginilah cara yang dilakukan untuk menghormati tempat ziarah ini. Tidak peduli Hindu, Jain, bahkan Muslim turut melakukan penghormatan ini. Aku yang baru melihat praktik seperti ini, dengan kikuk juga ikut menyentuh lantai dasar pintu sebagai bentuk penghormatanku. Kemudian kami mengantri di lorong masuk yang terdapat garis pemisah antara laki-laki dan perempuan. Tidak lama mengantri, tiba-tiba semua peziarah yang mengantri di lorong serentak duduk bersila. Lalu dari dalam temple terdengar lantunan do'a-do'a berbahasa Punjab dengan irama dan iringan musik yang syahdu. Semua peziarah tampak tertunduk berdoa. Aku juga ikut berdoa sesuai dengan kepercayaanku.

Setelah sekitar 10 menit, barisan peziarah mulai maju perlahan masuk ke dalam temple. Ruangan utama di dalam temple ini merupakan tempat pria-pria berturban melantunkan do'a yang dilengkapi dengan alat musik petik, akordion, dan gendang. Masing-masing pelantun do'a duduk melingkari sebuah peti yang ditinggikan, dan dibelakangnya ada yang memegang tongkat kipas bulu merak yang bertugas mengipasi sang pelantun tersebut (walaupun saat itu dinginnya subuh bikin menggigil). Satu hal lagi yang kuamati, tempat ini sangat bersih dan beraroma wangi seperti aroma parfum-parfum arab. Setelah berhenti sejenak dan berdo'a, kami naik ke lantai 2 yang penuh dengan ibu-ibu. Di lantai ini terdapat pigura-pigura bergambar Guru dalam agama Sikh. Keluar dari bangunan utama, kami disambut oleh seorang bapak yang membagikan segenggam nasi hangat lunak yang rasanya manis. Makanan ini diberikan di depan pintu keluar temple langsung ke telapak tangan seluruh peziarah.

Karena langit sudah kelihatan cerah, kami lalu mengelilingi temple yang pagi itu sangat ramai. Kami bahkan sempat bertemu kembali dengan 3 orang turis barat yang kemarin kami jumpai di Attari Border. Puas mengelilingi temple, kami memilih untuk put our ass di pelataran temple yang beralaskan karpet sambil sunbathing dan mengamati orang-orang sekitar: ada yang berlalu-lalang, berdoa, dan beberapa keluarga yang juga sedang duduk-duduk menikmati hangatnya sinar matahari.

Gerbang masuk Golden Temple

Golden Temple

Golden Temple di pagi hari

Salah satu puncak kubah di sisi Golden Temple

Tempat pengambilan perlengkapan untuk berdoa di dalam temple

Lantunan do'a ditampilkan lewat display raksasa ini

Salah satu Gurudwara dalam komplek Golden Temple

Sekumpulan keluarga duduk-duduk di pelataran yang beralaskan karpet

Salah satu Gurudwara

Petugas keamanan siap berjaga dengan tongkatnya yang berujung runcing

Setelah sun power memenuhi baterai di dalam tubuh, tibalah saatnya untuk sarapan. Ini yang paling aku tunggu-tunggu, karena di area komplek temple tersedia Langgar, dapur umum super besar yang menyediakan makanan gratis bagi pengunjung Golden Temple. Tidak peduli kaya, miskin, turis, gembel, Hindu, Muslim, semua boleh makan di sini. 

Aturannya begini: saat masuk kita mendapatkan piring dan sendok, lalu berjalan sedikit dan mendapatkan wadah berisi air minum yang semuanya berbahan aluminium. Kemudian kita melangkah masuk ke ruang makan dan duduk manis di atas karpet panjang yang sudah dibentang lurus seperti barisan shaf saat mau shalat. Baru saja duduk, pemuda-pemuda pembagi makanan akan langsung menyerbu dan mulai mengisi piring kosong kita: dimulai dengan dhaal, lalu curry, kemudian curd, dan nasi kuning manis. Terakhir datanglah chapatti hangat, yang porsi standarnya 2 tangkup chapatti untuk 1 orang. Jika ditengah-tengah makan ingin tambah, kita tinggal menengadahkan kedua tangan dan pemuda pembawa makanan akan langsung mendatangi. Kami makan dengan lahap dan cepat, karena pengunjung terus masuk dan masuk (jadi kami harus tau diri juga, hehehe). Waktu makan yang terburu-buru membuat kami tidak sempat untuk memotret free breakfast yang lezaatt itu. Ditambah lagi, hanya kamilah turis yang makan pada saat itu membuat kami jadi sedikit jaim. 

Kami keluar Golden Temple dengan perut kenyang dan hati yang senang. Kemudian kami memutuskan untuk beristirahat kembali di kamar. Jam 12 siang kami check out hotel, lalu mengelilingi pasar yang ternyata saat itu sedang ada pawai siswa sekolah Sikh yang imut dan ganteng-ganteng dengan truban khasnya. Pawai dimulai dari halaman kompleks Golden Temple, yang dihiasi dengan tali dan rumbai-rumbai kertas disepanjang jalannya. Setelah makan siang di sebuah warung makan, kami menuju stasiun untuk kembali ke New Delhi dengan kereta jam 3.00 sore. Kami sampai di New Delhi jam sekitar 11.00 malam, dan langsung  naik auto menuju hostel untuk beristirahat.

Pawai siswa sekolah 

Pelataran Golden Temple yang meriah

Barisan siswi di depan tempat menginap Shri Guru Ramdas Niwas

Kereta yang membawa kembali ke New Delhi

Sunday, March 3, 2013

India Trip (Part 6: Amritsar 1)

(24 Jan 2013)
Next destination dari perjalanan kami di India adalah Kota Amritsar yang terletak di negera bagian Punjab di utara India. Pagi-pagi jam 6 kami sudah check out dari hostel menuju New Delhi Railway Station untuk menuju Amritsar dengan kereta Shane Punjab. Karena jarak tempuh hanya 7 jam, kereta kali ini merupakan kereta dengan kursi duduk 90 derajat. 
Amritsar merupakan kota suci bagi pemeluk Agama Sikh, karena di sini terdapat tempat peribadatan kaum Sikh (dikenal dengan Gurudwara) tertinggi yaitu Harmandir Sahib, atau yang populer dengan nama Golden Temple. Ciri dari pemeluk Sikh terletak pada turban yang dikenakan oleh setiap prianya, mulai dari anak kecil hingga kakek-kakek. Selain dengan ciri turban yang khas, dalam kepercayaan Sikh juga dilarang untuk mencukur rambut yang ada di tubuh. Jadi setiap pria Sikh bisa dipastikan memiliki rambut yang panjang yang dikepang dan digulung di dalam turban, selain itu kumis dan janggut juga dibiarkan tumbuh panjang. Kalau wanitanya, dari sumber lokal yang aku dengar, wanita Sikh tidak memakai bindi (titik yang berada di tengah dahi) yang merupakan ciri wanita Hindu, hanya ada beberapa wanita yang mengenakan penutup kepala berupa selendang. Tambahan lagi, ciri khas wanita Sikh juga terlihat dari fisiknya yang rata-rata lebih "tegap", "berisi", dan (menurut pandangan beberapa orang) berwajah lebih cantik dengan hidung bangir dan kulit yang lebih cerah. Namun setelah aku amat-amati dari penumpang di kereta yang sebagian besar terdiri dari keluarga Sikh, ada benarnya juga. Dilihat dari nama, pria Sikh biasanya bernama belakang "Singh" yang berarti "Singa", dan wanitanya bernama "Kaur" yang berarti "Puteri". 

*kembali ke kereta*
Perjalanan jadi tidak berasa karena aku asyik mengamati keluarga Sikh yang duduk di seberang kompartemenku, yang terdiri dari seorang kakek, anak, dan cucu laki-lakinya yang lucu yang sudah memiliki rambut sebahu. Kereta sampai di Stasiun Amritsar Jn jam 3.00 sore, kami segera menuju cloack room untuk menitip backpack. Setelah itu, dengan menumpangi bus yang penuh sesak, kami menuju Attari Border yang berjarak 30 km dari stasiun kereta Amritsar.
Attari Border merupakan perbatasan darat antara India dan Pakistan, 2 negara yang dahulunya merupakan satu kesatuan namun menjadi terpisah pada akhir masa kolonialisme Inggris. Perpisahan ini menorehkan catatan kelam bagi sejarah kedua bangsa, dimana saat itu pemeluk Islam terpaksa "hijrah" ke tanah Pakistan yang akan menjadi sebuah negara yang berlandaskan Islam, dan sebaliknya, pemeluk Hindu yang berada di daerah utara "hijrah" ke tanah Hindustan. Peristiwa "hijrah" ini menjadi tragedi pertumpahan darah paling memilukan bagi kedua bangsa yang kemerdekaannya hanya berselisih 1 hari ini, didahului oleh Pakistan pada 14 Agustus 1947 kemudian disusul India satu hari setelahnya. Berpuluh tahun sudah berlalu, "perpisahan" itu kini dirayakan di perbatasan Attari bagian India dan Wagah bagian Pakistan dengan upacara penurunan bendera dan pembukaan pagar pemisah setiap sore. Upacara ini menjadi upacara di perbatasan negara paling unik di dunia, yang menyajikan atraksi patriotisme yang menarik turis dan penonton dari seluruh dunia. 

*kembali ke bus*
Bus yang kami tumpangi ternyata tidak sampai ke Attari Border melainkan hanya sampai di sebuah pasar. Untuk sampai ke tribun Attari Border kami harus menyambung lagi naik rickshaw yang didorong oleh seorang kakek Sikh tua sejauh 2 kilometer melewati jalanan lebar yang dipenuhi dengan truk-truk yang tampaknya akan melintasi perbatasan India menuju kota Lahore di Pakistan. Pengamanan untuk masuk ke dalam tribun sangat ketat, tidak boleh membawa tas dan handphone. Yang diizinkan untuk dibawa masuk hanya alat dokumentasi saja. Setiap pengunjung melewati screening gate, berjalan di jalur terpisah antara laki-laki dan perempuan, lalu badan diperiksa lagi beberapa kali oleh petugas sebelum akhirnya memasuki tribun upacara. Turis asing diberi tribun khusus yang dekat dengan pagar batas, sehingga bisa melihat jelas pemandangan tribun Pakistan di sebelah kiri yang saat itu sepi senyap, sangat kontras jika menoleh ke kanan dimana orang-orang tumpah ruah di tribun India.

Kakek-kakek ini kebanyakan adalah veteran militer India

Suasana tribun sebelum acara penurunan bendera 

Tribun yang tumpah ruah oleh penonton yang datang dari seluruh penjuru India

Tribun Pakistan yang tampak sepi

Sebelum acara puncak penurunan bendera dimulai, kedua belah pihak beradu-adu memainkan lagu masing-masing negara yang didendangkan melalui speaker superrrr kencang. Bagian India mendendangkan apalagi kalau bukan lagu-lagu Bollywood yang enerjik dengan beat yang menghentak. Siapapun tidak akan tahan untuk tidak bergoyang, apalagi saat lagu Jai Ho berkumandang semua orang tanpa terkecuali turis Barat dan Korea tumpah ruah menari-nari berpegangan tangan bersama-sama. Yel-yel masing-masing negera juga dikumandangkan dengan penuh semangat. Seruan "Hindustan!!!" oleh pembawa acara India dibalas dengan teriakan "Zindabad!!!" oleh penonton. Begitu terus berulang-ulang, sampai aku juga ikut semangat berteriak menyahut dan bertepuk tangan. 


Riuh musik Jai Ho menarik semua penonton turun dari tribun 

Penonton lokal dan turis berbaur menari bersama

Saat musik Bollywood dan yel-yel Hindustan reda sejenak, terdengarlah musik dari Pakistan yang tidak jauh beda dari musik Bollywood, yang menurutku masih kurang greget. Selain itu, dari speaker Pakistan aku sempat mendengar yel-yel "Pakistan!!!" dan Surat Ar Rahman dikumandangkan. Setelah atraksi musik dan tari-tarian selesai, masuklah acara puncak yaitu penurunan bendera. Pasukan Border Security Force (BSF) India dengan ciri topi berbentuk kipas berwarna merah melangkah menuju pagar "batas" dengan hentakkan kaki yang begitu keras. Satu langkah kaki diayunkan tinggi-tinggi sampai nyaris menyentuh ujung topi merah, lalu dihentakkan kuat-kuat ke tanah. Langkah selanjutnya dilakukan dengan hentakkan yang sama kuat hingga tiba di pagar batas. Hal yang persis sama ternyata juga dilakukan oleh Pakistan Ranger Soldiers, yang semakin membakar semangat dan menyulut teriakan dari semua penonton.

Border Security Force dengan topi uniknya

Pasukan penggerek bendera tengah bersiap-siap

Setiap langkah diambil dengan ayunan tinggi dan hentakkan kuat

Tiba di pagar "batas"

Semua penonton menarik napas saat pagar batas dibuka

Atraksi selanjutnya terjadi begitu cepat. Para pasukan mengatur barisan masih dengan tarikan tinggi dan hentakkan hebat yang sama, lalu pagar batas India diayun dan pagar Pakistan digeser terbuka serentak. Tepat saat itu, semua penonton bertepuk tangan riuh. Kedua tali bendera disilangkan kemudian digerek turun serentak tanpa ada yang mendahului. Setelah itu, satu orang ranger dari kedua belah pihak saling bersalaman dengan "angkuh" disusul dengan ditutupnya (lebih tepatnya dibantingnya) kedua pagar yang lagi-lagi dilakukan secara serentak. Penonton kembali bertepuk riuh dan pasukan kembali ke barisan masih dengan gaya hentakan yang tinggi dan kekuatannya tidak berkurang sedikitpun. Acara ditutup dengan dipersilahkannya penonton turun dari tribun untuk mendekati pagar batas dan foto-foto bareng ranger yang tinggi gagah dengan seragamnya yang unik itu.


Ranger dari kedua negara saling bertemu di pagar batas

Bendera mulai diturunkan

Kedua bendera diturunkan secara serentak tanpa ada yang mendahului

Bendera di atas gerbang Mohandas Ghandi juga ikut diturunkan

Kami meninggalkan perbatasan bersejarah yang menjadi titik terjauh dalam trip kami kali ini dengan kenangan yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup. Di sinilah pertama kali aku merinding merasakan semangatnya bangsa India, sebuah bangsa yang besar. Benar-benar bangsa yang besar, yang selama ini aku (atau banyak orang di luaran sana) pandang dengan sebelah mata. Aku sungguh menyasikan kekuatan negeri Mahatma Gandhi dengan lebih 1 miliyar penduduknya ini tepat di tapal batas mereka, yang dihormati dan dirayakan setiap hari tanpa henti oleh penduduknya dengan semangat yang luar biasa. Aku jadi bertanya-tanya, apa kabar tapal batas negeriku tercinta dengan negeri jiran diujung sana?

*tonton video dibawah ini untuk merasakan semangat Bollyowoodnya ;)


** to be continued to Amritsar 2

Friday, March 1, 2013

India Trip (Part 5: Varanasi - New Delhi)

(21 Jan 2013)
Kereta Kurj-BSB Link Express yang membawa kami dari Khajuraho sampai di Varanasi pukul 8.00 pagi. Seperti biasa, kami langsung menuju cloack room untuk  menitip backpack. Cloack room ini bisa dibilang yang kondisinya paling miris dibandingkan dengan cloack room di stasiun yang pernah kami singgahi sebelumnya. Letaknya jauh di bagian pojok stasiun dekat gudang penyimpanan dan pembongkaran barang-barang yang terdiri dari kotak-kotak dan karung-karung berisi bahan makanan, pakaian, dll. Gedungnya suram, berdebu, dan tidak banyak barang titipan yang terlihat. Kami sampai mengalasi backpack dengan koran 2 lapis. Keluar dari stasiun, kami cukup kaget dengan suasana yang ramai. Di jalan keluar stasiun, ada semacam tenda yang menjadi tempat tinggal (entah tetap atau sementara) homeless people. Kamipun menyaksikan aktivitas pagi penghuni tenda tersebut, ada anak kecil yang duduk-duduk sambil makan snack, laki-laki yang menyikat gigi, ibu-ibu yang seperti sedang mencuci botol, dan lain sebagainya. Malah ada yang masih tergeletak tidur beralaskan selimut di luar tenda.

Keluar stasiun, kami menghadapi jalanan yang ruamaaaiiii sekali. Mobil, motor, sepeda, auto, rickshaw, sapi, semua seperti bertebaran tidak karuan mencari jalan. Tidak ketinggalan dengan "tiiiiiiinnnn.... tiiiiiinnnn..." klapson sahut menyahut yang bisa membuat stress. Karena lapar, kami sarapan dulu di restoran fast food a la India di depan stasiun dengan menu chapati dan kari dhaal. Selepas sarapan, kami naik rickshaw menuju kawasan Ghat (tempat peribadatan Hindu di pinggir Sungai Gangga). Di perjalanan, kami juga harus menghadapi kemecetan dan keriuhan yang sama seperti di depan stasiun.


Macetnya jalanan di Varanasi


Rickshaw Wala yang mengantar kami mengarungi macetnya Varanasi menuju  Ghat

Ghat di Varanasi ternyata berlokasi di belakang pasar, jadi untuk menuju ke sana harus jalan melewati pasar. Di jalan, kami menemui sapi-sapi yang dengan anggun melintas di tengah jalan, anjing-anjing berpostur besar, penjual bunga dan perlengkapan pemujaan, hippy traveler, pendeta brahmin yang dengan santai berjalan hilir mudik ke sana ke mari, hingga... pipis monyet. Begini ceritanya, saat itu aku kebelet pipis. Dari jauh aku melihat ada bagunan dengan plang "TOILET", lalu berjalan ke sana dengan Nurul di belakangku. Saat mau menyeberang jalan, tak ada angin tak ada geledek, tumpahan air jatuh dari pohon rimbun di atasku. Untungnya tidak jatuh tepat di badanku, tapi persis 2 langkah di depanku. Langkahku langsung terhenti, lalu melihat ke atas dahan pohon yang bergoyang-goyang. Tiba-tiba Nurul teriak sambil menunjuk-nunjuk ke sumber goyangan, "Itu barusan monyet lagi pipis...!!!". What??? Mataku langsung tertuju pada seekor monyet berekor panjang yang lagi menghadapkan pantat merah jambunya ke bumi, sambil lenggak-lenggok meledek pula. Kurang ajarrr!!! Hampir saja aku jadi korban. Sejak saat itu, aku jadi lebih hati-hati liat atas-bawah kalau jalan dibawah pohon rimbun.

Ghat di tepian Sungai Gangga



Kami sampai di tepian Sungai Gangga persis tengah hari saat matahari bersinar terik membawa kehangatan musim dingin. Lalu berjalan meniti satu demi satu Ghat-ghat di tepi sungai. Kemudian kami naik boat ke seberang sungai yang ditarik oleh seorang adik kecil berusia 10 tahun. Di sungai yang disucikan pemeluk Hindu ini, kami melihat banyak sekali orang yang mandi atau sekedar mencelupkan badan kemudian berdoa. Kebanyakan adalah laki-laki, tapi juga ada beberapa perempuan paruh baya yang tetap mengenakan kain sari.

Adik kecil yang mendayung boat mengantar pengunjung ke seberang Sungai Gangga

Sungai Gangga yang tersohor sebagai salah satu peradaban tertua di dunia

Setelah kembali dari boat, kami mengunjungi Kashi Vishwanath Temple, salah satu candi suci pemeluk Hindu. Semua orang boleh masuk termasuk turis, tapi harus sopan dan mengikuti aturan umum bagi pengunjung temple yaitu melepas alas kaki, berpakaian sopan dan tertutup, tidak boleh membawa alat dokumentasi dan komunikasi dalam bentuk apapun, serta melewati gerbang screening seperti di bandara. Karena saat itu merupakan bagian dari tarikh festival Khumb Mela yang dilaksanakan setiap 55 tahun sekali, temple dipadati oleh peziarah dari seluruh negeri. Kami ikut mengantri bersama peziarah lain dan menyaksikan ziarah pemeluk Hindu di temple yang di atap-atapnya kembali kami temui monyet wara-wiri dengan gembira. Monyet merupakan salah satu hewan yang dianggap suci oleh pemeluk Hindu, jadi tidak ada monyet yang diganggu, diburu, atau dikerangkeng seperti layaknya di Indonesia. Semua manusia dan hewan hidup berdampingan di India.

Atraksi utama dari kota yang terletak di tepi sungai Gangga ini adalah Aarti atau pemujaan di sore hari yang diselenggarakan dengan meriah yang dipimpin oleh Brahmin lengkap dengan lilin dupa, kliningan lonceng, dan   lantunan doa yang diiringi dengan musik yang syahdu. Upacara Aarti dimulai pukul 6 sore setiap harinya, tapi baru masuk ke acara puncak sekitar jam 6.30. Hal ini membuat kami tidak bisa menyaksikan acara puncak Aarti karena kami harus mengejar kereta kembali ke New Delhi jam 7.10. Sungguh disayangkan sebenarnya, saat lantunan musik pembukaan sudah dimainkan dan Brahmin sudah bersiap-siap memulai acara, kami harus segera berlari mencari auto untuk menuju stasiun. Tepat jam 6.40 dengan sedih kami meninggalkan upacara Aarti yang baru saja dimulai. Kami tidak mau mengambil resiko ketinggalan kereta hanya karena alasan bodoh seperti dihadang macet, ditipu auto wala, dlsb. Akhirnya kami sampai di stasiun jam 7.00, mengambil backpack di cloack room, lalu mencari sleeper coach di kereta yang sudah terparkir manis di peron. Kereta perlahan bergerak tepat jam 7.10 membawa kami kembali ke New Delhi.

Persiapan upacara Aarti

Brahmin yang memimpin upacara Aarti, banyak juga turis yang menyaksikan upacara ini dari Boat di atas Sungai Gangga

Jepretan terakhir sebelum meninggalkan uacara Aarti untuk mengejar kereta kembali ke New Delhi


(22 Jan 2013)
Sektiar jam 10 pagi kereta sampai di New Delhi Railway Station. Kami naik auto kembali ke hostel tempat kami pernah bermalam sebelumnya di kawasan Bharatnagar. Setelah check in, kami langsung menghambur ke kamar, bersih-bersih, lalu menghabiskan hari dengan tidur.

Ya, tidak ada yang kami lakukan di hari ini kecuali tidur dan makan. Walaupun badan terasa letih setelah 3 hari 3 malam berturut-turut dilalui di dalam kereta, tapi kami merasa bahagia. Euforia festival dan perjalanan bersama warga lokal masih menari-nari di hati :)

(23 Jan 2013)
Tidak berbeda dengan hari kemarin yang kami habiskan dengan tidur, hari ini kami lalui dengan kegiatan cuci mencuci mengingat persediaan pakaian bersih yang sudah menipis. Setelah cuci-cuci selesai, kami mengunjungi pasar, makan siang, dan mengunjungi sebuah college Lady Shri Ram College yang terletak di pusat kota New Delhi. Di sini, kami juga berkesempatan bertemu dengan seorang teman dari Bandung dan host-parents nya saat pertukaran pelajar ke India. Kami bertemu dengan Mr Raj yang baik dan ramah, lalu tiba-tiba ia bertanya, "How is your parents? Are they fine?". Nurul menjawab, "Oh.. yes. All is fine". Aku memotong, "Yaa, all is fine. Why?", tanyaku heran, kenapa tiba-tiba menanyakan orang tua. Mr Raj menjawab, "I see in news, that there is flood in Indonesia. Is that near your place?". Aku dan Nurul berpandangan, lalu aku membalas sok tahu, "Oh... Indonesia is a very wide country, that mostly happens in the East Indonesia".

Tidak lama setelah berpisah dengan Mr Raj, kami melangkah kembali menuju hostel kemudian menaiki bus. Saat itu kami berjalan melewati kios pedagang koran, dan di sana kami melihat halaman depan koran-koran berhasa Hindi dan Inggris memuat gambar yang kami kenal: Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta namun tengah terendam air bah berwarna cokelat. Oh... Ternyata banjir itu melanda Ibukota tercinta.