Friday, March 1, 2013

India Trip (Part 5: Varanasi - New Delhi)

(21 Jan 2013)
Kereta Kurj-BSB Link Express yang membawa kami dari Khajuraho sampai di Varanasi pukul 8.00 pagi. Seperti biasa, kami langsung menuju cloack room untuk  menitip backpack. Cloack room ini bisa dibilang yang kondisinya paling miris dibandingkan dengan cloack room di stasiun yang pernah kami singgahi sebelumnya. Letaknya jauh di bagian pojok stasiun dekat gudang penyimpanan dan pembongkaran barang-barang yang terdiri dari kotak-kotak dan karung-karung berisi bahan makanan, pakaian, dll. Gedungnya suram, berdebu, dan tidak banyak barang titipan yang terlihat. Kami sampai mengalasi backpack dengan koran 2 lapis. Keluar dari stasiun, kami cukup kaget dengan suasana yang ramai. Di jalan keluar stasiun, ada semacam tenda yang menjadi tempat tinggal (entah tetap atau sementara) homeless people. Kamipun menyaksikan aktivitas pagi penghuni tenda tersebut, ada anak kecil yang duduk-duduk sambil makan snack, laki-laki yang menyikat gigi, ibu-ibu yang seperti sedang mencuci botol, dan lain sebagainya. Malah ada yang masih tergeletak tidur beralaskan selimut di luar tenda.

Keluar stasiun, kami menghadapi jalanan yang ruamaaaiiii sekali. Mobil, motor, sepeda, auto, rickshaw, sapi, semua seperti bertebaran tidak karuan mencari jalan. Tidak ketinggalan dengan "tiiiiiiinnnn.... tiiiiiinnnn..." klapson sahut menyahut yang bisa membuat stress. Karena lapar, kami sarapan dulu di restoran fast food a la India di depan stasiun dengan menu chapati dan kari dhaal. Selepas sarapan, kami naik rickshaw menuju kawasan Ghat (tempat peribadatan Hindu di pinggir Sungai Gangga). Di perjalanan, kami juga harus menghadapi kemecetan dan keriuhan yang sama seperti di depan stasiun.


Macetnya jalanan di Varanasi


Rickshaw Wala yang mengantar kami mengarungi macetnya Varanasi menuju  Ghat

Ghat di Varanasi ternyata berlokasi di belakang pasar, jadi untuk menuju ke sana harus jalan melewati pasar. Di jalan, kami menemui sapi-sapi yang dengan anggun melintas di tengah jalan, anjing-anjing berpostur besar, penjual bunga dan perlengkapan pemujaan, hippy traveler, pendeta brahmin yang dengan santai berjalan hilir mudik ke sana ke mari, hingga... pipis monyet. Begini ceritanya, saat itu aku kebelet pipis. Dari jauh aku melihat ada bagunan dengan plang "TOILET", lalu berjalan ke sana dengan Nurul di belakangku. Saat mau menyeberang jalan, tak ada angin tak ada geledek, tumpahan air jatuh dari pohon rimbun di atasku. Untungnya tidak jatuh tepat di badanku, tapi persis 2 langkah di depanku. Langkahku langsung terhenti, lalu melihat ke atas dahan pohon yang bergoyang-goyang. Tiba-tiba Nurul teriak sambil menunjuk-nunjuk ke sumber goyangan, "Itu barusan monyet lagi pipis...!!!". What??? Mataku langsung tertuju pada seekor monyet berekor panjang yang lagi menghadapkan pantat merah jambunya ke bumi, sambil lenggak-lenggok meledek pula. Kurang ajarrr!!! Hampir saja aku jadi korban. Sejak saat itu, aku jadi lebih hati-hati liat atas-bawah kalau jalan dibawah pohon rimbun.

Ghat di tepian Sungai Gangga



Kami sampai di tepian Sungai Gangga persis tengah hari saat matahari bersinar terik membawa kehangatan musim dingin. Lalu berjalan meniti satu demi satu Ghat-ghat di tepi sungai. Kemudian kami naik boat ke seberang sungai yang ditarik oleh seorang adik kecil berusia 10 tahun. Di sungai yang disucikan pemeluk Hindu ini, kami melihat banyak sekali orang yang mandi atau sekedar mencelupkan badan kemudian berdoa. Kebanyakan adalah laki-laki, tapi juga ada beberapa perempuan paruh baya yang tetap mengenakan kain sari.

Adik kecil yang mendayung boat mengantar pengunjung ke seberang Sungai Gangga

Sungai Gangga yang tersohor sebagai salah satu peradaban tertua di dunia

Setelah kembali dari boat, kami mengunjungi Kashi Vishwanath Temple, salah satu candi suci pemeluk Hindu. Semua orang boleh masuk termasuk turis, tapi harus sopan dan mengikuti aturan umum bagi pengunjung temple yaitu melepas alas kaki, berpakaian sopan dan tertutup, tidak boleh membawa alat dokumentasi dan komunikasi dalam bentuk apapun, serta melewati gerbang screening seperti di bandara. Karena saat itu merupakan bagian dari tarikh festival Khumb Mela yang dilaksanakan setiap 55 tahun sekali, temple dipadati oleh peziarah dari seluruh negeri. Kami ikut mengantri bersama peziarah lain dan menyaksikan ziarah pemeluk Hindu di temple yang di atap-atapnya kembali kami temui monyet wara-wiri dengan gembira. Monyet merupakan salah satu hewan yang dianggap suci oleh pemeluk Hindu, jadi tidak ada monyet yang diganggu, diburu, atau dikerangkeng seperti layaknya di Indonesia. Semua manusia dan hewan hidup berdampingan di India.

Atraksi utama dari kota yang terletak di tepi sungai Gangga ini adalah Aarti atau pemujaan di sore hari yang diselenggarakan dengan meriah yang dipimpin oleh Brahmin lengkap dengan lilin dupa, kliningan lonceng, dan   lantunan doa yang diiringi dengan musik yang syahdu. Upacara Aarti dimulai pukul 6 sore setiap harinya, tapi baru masuk ke acara puncak sekitar jam 6.30. Hal ini membuat kami tidak bisa menyaksikan acara puncak Aarti karena kami harus mengejar kereta kembali ke New Delhi jam 7.10. Sungguh disayangkan sebenarnya, saat lantunan musik pembukaan sudah dimainkan dan Brahmin sudah bersiap-siap memulai acara, kami harus segera berlari mencari auto untuk menuju stasiun. Tepat jam 6.40 dengan sedih kami meninggalkan upacara Aarti yang baru saja dimulai. Kami tidak mau mengambil resiko ketinggalan kereta hanya karena alasan bodoh seperti dihadang macet, ditipu auto wala, dlsb. Akhirnya kami sampai di stasiun jam 7.00, mengambil backpack di cloack room, lalu mencari sleeper coach di kereta yang sudah terparkir manis di peron. Kereta perlahan bergerak tepat jam 7.10 membawa kami kembali ke New Delhi.

Persiapan upacara Aarti

Brahmin yang memimpin upacara Aarti, banyak juga turis yang menyaksikan upacara ini dari Boat di atas Sungai Gangga

Jepretan terakhir sebelum meninggalkan uacara Aarti untuk mengejar kereta kembali ke New Delhi


(22 Jan 2013)
Sektiar jam 10 pagi kereta sampai di New Delhi Railway Station. Kami naik auto kembali ke hostel tempat kami pernah bermalam sebelumnya di kawasan Bharatnagar. Setelah check in, kami langsung menghambur ke kamar, bersih-bersih, lalu menghabiskan hari dengan tidur.

Ya, tidak ada yang kami lakukan di hari ini kecuali tidur dan makan. Walaupun badan terasa letih setelah 3 hari 3 malam berturut-turut dilalui di dalam kereta, tapi kami merasa bahagia. Euforia festival dan perjalanan bersama warga lokal masih menari-nari di hati :)

(23 Jan 2013)
Tidak berbeda dengan hari kemarin yang kami habiskan dengan tidur, hari ini kami lalui dengan kegiatan cuci mencuci mengingat persediaan pakaian bersih yang sudah menipis. Setelah cuci-cuci selesai, kami mengunjungi pasar, makan siang, dan mengunjungi sebuah college Lady Shri Ram College yang terletak di pusat kota New Delhi. Di sini, kami juga berkesempatan bertemu dengan seorang teman dari Bandung dan host-parents nya saat pertukaran pelajar ke India. Kami bertemu dengan Mr Raj yang baik dan ramah, lalu tiba-tiba ia bertanya, "How is your parents? Are they fine?". Nurul menjawab, "Oh.. yes. All is fine". Aku memotong, "Yaa, all is fine. Why?", tanyaku heran, kenapa tiba-tiba menanyakan orang tua. Mr Raj menjawab, "I see in news, that there is flood in Indonesia. Is that near your place?". Aku dan Nurul berpandangan, lalu aku membalas sok tahu, "Oh... Indonesia is a very wide country, that mostly happens in the East Indonesia".

Tidak lama setelah berpisah dengan Mr Raj, kami melangkah kembali menuju hostel kemudian menaiki bus. Saat itu kami berjalan melewati kios pedagang koran, dan di sana kami melihat halaman depan koran-koran berhasa Hindi dan Inggris memuat gambar yang kami kenal: Bundaran Hotel Indonesia di Jakarta namun tengah terendam air bah berwarna cokelat. Oh... Ternyata banjir itu melanda Ibukota tercinta.

1 comment:

  1. Ternyata tak berbeda jauh ya dengan 3 tahun yang lalu ya kak. Beberapa hari yang lalu habis dari varanasi juga.

    ReplyDelete